Akhirnya Memilih Suzuki Thunder untuk Motor Touring dan Harian

Suzuki Thunder 125


Beli motor kok nanggung, motor banci, sparepart mahal, onderdil susah, motor jadul, motor murahan, dan sederetan komentar miring sering dialamatkan ke Suzuki Thunder. Namun, kenapa saya memilih motor ini untuk kemudian saya gunakan untuk motor harian dan kadang untuk jelajah? Review singkat ini akan menjelaskan dengan simpel dan s
angat mudah.

Saya memutuskan membeli motor Suzuki Thunder 125 tahun 2008 dengan harga yang sangat cukup murah 3,2 juta saja. Kenapa cukup murah? karena ada teman saya yang dapat harga di bawah 3 juta untuk motor yang kondisinya hampir sama.

Harga Murah

Saat saya browsing ke Facebook Marketplace dan mencari motor di range harga 3-4 juta yang muncul adalah Shogun, Smash, Thunder. Bahkan hanya sekadar Supra lama 100 cc itu harganya di atas 4jt. Saat itu niatan awal membeli motor adalah yang penting bisa jalan buat kerja harian, itu saja. Tetapi melihat dari opsi yang muncul mulai melirik Thunder 125.

Modif Mudah

Saat fokus mulai terkunci ke Suzuki Thunder 125 saya mulai melihat sisi lain dari motor yang satu ini. Ini ibarat adalah motor basic yang bisa diubah menjadi apa saja keinginan si pemiliknya alias mudah dimodifikasi. Ada yang mengubahnya menjadi japstyle, touring, caferacer, hingga motocross semua bisa disesuaikan secara minimalis maupun totalitas.

Nyaman

Dari kemudahan modif inilah, saya yang dari dulu hobi touring kepikiran untuk menjadikan motor ini sebagai motor harian tetapi juga nyaman untuk jarak jauh. Untuk mengubahnya menjadi lebih nyaman, bisa dimulai dari part sederhana dan murah. Saat saya menulis artikel ini setidaknya perubahan baru saya lakukan di 3 bagian saja di antaranya pada bagian depan dengan pemasangan windshield, di bagian stang ditambahkan pivot riser, dan di bagian belakang dipasang bracket dan box. Untuk deail modifikasinya nanti saya tulis di artikel yang lain.

Dari sisi berat motor sudah mendukung, dipake jalan untuk di jalanan yang agak kasar lebih tenang ditambah diameter ban ring 18 menjadikan lubang di jalan lebih teredam guncangannya dengan baik.

Bagaimana sisi negatifnya? Minusnya? Tentu ada. Berikut ringkasannya minus atau kendala yang pernah saya alami. Selanjutnya tinggal menimbang, cocok nggak memelihara motor tua ini karena tidak semua orang mau dengan segala kekurangannya.

Kelistrikan

Belum genap sepekan bersama motor ini sudah diuji dengan konsleting listrik yang menjadikan motor mati total. Ini yang membuat orang akan berpikir ulang ketika akan meminang Thunder 125. Malam hari, mau pulang kerja, motor mati total, cari bengkel susah dan begitu ada ditembak biaya servis mahal.

Mungkin yang perlu diperhatikan sebelum membeli pastikan kelistrikan dan kabel-kabel baik. Alhamdulillah bisa dikondisikan dengan biaya 275rb, ongkos untuk mengurai kabel dan mengganti sekring.

Setelah itu alhamdulillah hampir setengah tahun kelistrikan baik-baik saja dan tak ada kendala sama sekali.

Speed

Kenapa banyak anak muda yang tak mau mengendarai motor yang satu ini? Faktor kecepatan salah satunya. Dalam kondisi mesin standar, larinya masih kalah sama Supra dan Beat. Biar bisa menyamai kecepatan supra, mungkin masih harus diotak-atik lagi mesinnya.

Sparepart Mahal

Mungkin jika beli part ori SGP dibanding merk lain bisa jadi iya, lebih mahal. Namun kualitas yang didapatkan jaminan awet, jika kita ingin mendapatkan harga yang lebih murah kita bisa mengganti dengan part merk lain.

Akhirnya, apakah menyesal telah memilih Suzuki Thunder 125 untuk motor harian kerja maupun untuk jelajah? Tidak. Motor ini lebih dari cukup untuk harga yang benar-benar miring. Motor ini saya beli dengan harga 3,2 juta rupiah dan untuk custom habis sekitar 1 juta rupiah sudah cukup nyaman. Jadi jika ditotal sekitar 4,2 juta rupiah, uang segitu jika saya kepingin Megapro, Tiger, atau Scorpio ya masih sangat jauh.[]

Comments