Thursday, July 27, 2017

Teknik Penulisan Catatan Perjalanan


Adzan Dzuhur berkumandang, sekaligus sebagai penanda bahwa acara siang ini telah selesai. Sebelum beranjak dari meja, aku memandang catatan yang kau tuliskan baru saja. Catatan ini menjadi begitu penting untuk belajar lebih lagi. Aku mengingat beberapa tahun yang lalu ketika masih berstatus mahasiswa yang suka jalan-jalan.

Saat itu, dengan modal nekat aku mengajak seorang teman untuk menjelajah Pacitan, menikmati alamnya, memotret pemandangannya, dan menuliskan hal-hal yang menarik dari obyek wisata maupun perjalanan kami. Tujuannya, kami akan membuat buku petualangan, mengirimkan naskah ke penerbit lalu diterbitkan, kami dapat uang, dan karya kami diakui. Sepolos itu.


Setelah menjelajah, punya segudang catatan, seabreg foto, kami berapi-api menulis lalu mengirim ke banyak penerbit. Semua menolak naskah kami. Lalu kami malas.

Saat ini, tiap hari aku menulis. Tiap hari berada di depan laptop dengan tuntutan sekian naskah yang harus selesai sesuai deadline. Menulis sudah bukan masalah lagi. Namun, agar tulisan bisa renyah untuk dibaca ternyata tidak mudah. Oleh karena itu siang ini aku dan teman-teman menimba ilmu dari Pak Karkono tentang penulisan fiksi. Pak Karkono telah banyak menghasilkan cerpen, novel, menyutradarai film, juri lomba kepenulisan dan banyak karya keren yang lainnya. Ternyata, banyak sekali keindahan dalam bahasa ketika kita mau mempelajarinya. Rasanya mak jleb. Kenapa aku enggak belajar dari kemarin untuk menulis catatan perjalanan dengan lebih indah.

Menulis catatan perjalanan tidak selalu harus menggunakan bahasa yang straight seperti berita. Bahkan berita pun sudah banyak yang mengadopsi jurnalisme sastrawi. Kemudian aku pikir, pasti akan lebih baik lagi jika konsep-konsep tersebut diterapkan dalam sebuah catatan perjalanan. Teknik mengolah sudut pandang, alur, pemilihan diksi, dll rasa-rasanya akan membuat catatan perjalanan lebih gurih dan sedap untuk dinikmati.


Beberapa tulisan saya dalam coklatpanas.com memang sudah mencoba memainkan sudut pandang, tetapi rasanya masih belum maksimal. Mungkin postingan saya selanjutnya akan mencoba memainkan teknik dalam penulisan fiksi untuk diresapkan dalam catatan perjalanan. Apakah akan menjadi lebih sedap? Silakan dicicipi di postingan selanjutnya.[]

No comments: