Thursday, July 6, 2017

Pendakian Pertama Bareng Istri dan Calon Baby


Malam ini langit gelap sedikit mendung. Aku agak khawatir jika turun hujan saat kami melewati lorong-lorong nanti. Kami  berjalan menyusuri jalan setapak dengan agak was-was. Malam ini entah kenapa begitu sepi. Tangan kiriku memegang senter, tangan kananku memegang belati Columbia metalic mengkilat, sedangkan istriku berjalan satu meter di depanku. Di punggung, aku menggendong carrier 80 liter full muatan. Sesekali aku mendengar suara hewan yang tidak begitu familier suaranya dari arah semak di sekitar jalan setapak yang kami lalui. Sebentar-sebentar senter kuarahkan ke semak-semak untuk memastikan tidak ada apa-apa.
Sejenak kami berhenti. Di depan kosong, di belakang kosong, di sekitar kami kosong. Kami tidak bertemu siapa pun di sini, hanya satu dua orang di awal perjalanan.
“Masih jauh nggak, Mas?” tanya istriku.
“Bentar lagi sampai Gardu V, lalu puncak pertama, tinggal dekat kok” jawabku menenangkan.


Malam ini malam minggu, tetapi kenapa sepinya minta ampun. Beberapa waktu yang lalu memang aku sempat bermalam di sini sendirian, tetapi malam ini aku merasakan kekhawatiran yang sedikit berbeda. Aku khawatir jika turun hujan lebat sedangkan aku berada di tengah celah tebing atau saat merayap di lorong sumpitan atau di sela-sela tebing yang lain.
Ini pendakian pertama kami setelah menikah. Impian kami mendaki Gunung Prau, tetapi lama tak naik gunung menjadikan kami memilih Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta sebagai pemanasan sebelum mbolang lagi di tempat yang lain.

Tiba di Puncak
Gunung Api Purba Nglanggeran memang bukan gunung yang tinggi, tetapi view yang disuguhkan ketika pagi hari luar biasa indah. Kami sengaja memilih mendirikan tenda di samping batu besar di bawah puncak agar terhalang dari angin yang dinginnya menggigit. Malam ini niatan untuk memasak kami urungkan, mata ini sudah sangat lengket dan tidak mau kompromi. Begitu tenda berdiri, semua barang masuk, tutup rapat lalu tidur.
Pagi hari subuh, kami berniat naik ke puncak untuk menyaksikan sunrise tetapi gagal. Pagi ini kabut tebal sekali dan langit berselimut mendung. Selepas sholat subuh kami menyiapkan sarapan dan susu hangat.
Setelah mengisi perut kami naik ke batuan di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran. Tiba di atas, seperti biasa, tempat ini ramai oleh orang-orang yang berharap mendapatkan sunrise mempesona dari Puncak Nglanggeran. Saya sama seperti yang lain, tidak mendapatkan sunrise. Matahari muncul di balik awan dalam kondisi yang sudah terang.

Abaikan perbedaan jenis sandalnya :D

Jangan Menunggu Panas
Gunung Api Purba Nglanggeran bukanlah gunung yang tinggi, sehingga semakin siang kita berada di atas dijamin makin panas, tidak ada hawa-hawa dingin ketinggian. Kami mulai membuka camilan lagi ketika berada di dalam tenda. Mengisi perut hingga kenyang lalu berkemas untuk melipat tenda lalu packing dan turun.
Sengaja kami tidak turun melewati jalur turun yang telah disediakan pengelola. Kami lebih memilih untuk kembali melewati jalur ketika berangkat tadi malam, melewati Lorong Sumpitan yang mirip dengan lokasi film 127 Hours. Alasannya? Ya, karena jalur yang dibuat untuk turun adalah melewati jalur ke luar yang endingnya di kebun belakang rumah penduduk. Saya pernah lewat situ beberapa kali, rasanya, mmm, saya lebih memilih di penghujung perjalanan menyaksikan taman yang tertata rapi dibandingkan menyaksikan kebun belakang rumah penduduk. Selain itu memang sedikit lebih memutar untuk bisa mencapai tempat parkir.
Yei, akhirnya finish di tempat parkir. Kami istirahat sejenak lalu meletakkan carrier besar di bagian depan motor Honda Beat yang agak maksa jika harus menampung carrier besar. Kami mengenakan kacamata hitam lalu perjalanan pulang kembali ke Solo.

Dan sampai pulang, kami belum tahu bahwa sudah ada dedek bayi berusia satu bulan dalam perut istriku. Ayah suka naik gunung, bunda suka naik gunung, dan dedek bayi di usia satu bulan dalam perut sudah diajak naik gunung. Alhamdulillah traveling kali ini lancar tak kurang suatu apa pun. Traveling selanjutnya? Entahlah, selama kehamilan mungkin yang dekat-dekat dulu aja.[]

Yang di sebelah lebih indah daripada sekadar sunrise

Sebelum masuk Lorong Sumpitan lagi

No comments: