Saturday, February 18, 2017

Doa-doa yang terjawab (31 Desember 2016)


Berkali-kali aku harus mengangkat kaki, memaksanya melangkah menyusuri jalanan yang berdebu, bebatuan, gersang, sendirian. Sejak pulang dari kemuning sekian waktu yang lalu untuk menikmati kesendirian, aku sudah rela. Aku sudah benar-benar mengikhlaskan, bagaimana jalan yang Allah pilihkan untukku.

Ternyata pada kesempatan yang lain, Allah menunjuki jalan seperti apa yang harus aku tempuh. Sejak pertengahan Juli 2016 langkah itu terus bergulir dengan pasti, setapak demi setapak menuju lokasi tujuan. Hingga pada 31 Desember 2016, tepat di penghujung tahun langkah kakiku berhenti. Langkah kakiku berhenti tepat di depan sepasang sepatu kecil yang akan menemani langkah-langkahku selanjutnya.

Dia yang senantiasa ada dalam doa-doaku, kini ada di sampingku di depan Na'ib dari KUA. Masjid Wisanggeni jadi saksi, di sabtu pagi 31 Desember 2016, doa-doa itu terjawab dengan indah. Alhamdulillah ya Allah.