Tuesday, October 4, 2016

Mendaki Cumbri, Sendiri


Saat ini, Instagram nampaknya sukses menjadi sebuah alat penebar ‘racun’ traveling  yang efektif. Tengok saja, gara-gara dia, banyak orang yang awalnya tidak suka naik gunung tiba-tiba mau bersusah payah jalan kaki naik gunung biar seperti kawannya yang lain. Gara-gara dia juga, lokasi wisata yang sepi tiba-tiba menjadi ramai pengunjung. Diakui atau tidak, kehadirannya mengubah banyak hal.
Perjalanan saya mendaki Bukit Cumbri ini contohnya. Saya sempat ‘terracuni’ oleh foto-foto yang beredar di Instagram. Walaupun memang, ‘racun’ itu bertambah kuat dari omongan kawan-kawan saya yang tinggal di Wonogiri.
Awalnya saya hanya ingin melihat foto-fotonya, tapi kemudian rasa penasaran itu semakin kuat. Selanjutnya, kalau saya sudah berburu koordinat dan memasukkannya ke dalam note, itu artinya suatu saat jika ada kesempatan saya pasti meluncur ke sana.

Bukit Cumbri berada di daerah perbatasan antara Purwantoro dengan Ponorogo. Bagi kalian yang penasaran dengan Bukit Cumbri dan ingin mendakinya, ini sudah bukan hal yang sulit. Google Maps sudah menandai lokasi ini, sehingga dari arah mana pun kalian tinggal minta tolong dibuatkan rute menuju lokasi, selesai.
Saya berangkat dari Solo menuju Wonogiri saat itu. Koordinat sudah saya simpan di aplikasi Sygic yang ada di Zenfone 4, smartphone sehari-hari saya. Kenapa saya simpan di Sygic? Karena jika suatu saat saya tidak mendapatkan sinyal internet saya bisa mengandalkan satelit. Nahas, Sygic tidak mampu membuatkan rute untuk jarak yang jauh. Saya saat itu sudah berada di Wonogiri, masih juga belum bisa memberikan rute ke Cumbri. Bahkan, saya sempat nyasar sampai Waduk Gajah Mungkur, harusnya tidak lewat sini. Akhirnya saya kembali mengandalkan internet dengan Google Maps. Alhamdulillah lancar, bahkan di daerah yang saya perkirakan sinyal susah (jalur tembus dekat PLTA) ternyata masih lock dengan lancar.
Dengan panduan Google Maps saya gas pol arah Ponorogo melalui Purwantoro. Sebelum melewati Gapura Reog, Maps menuntun saya untuk belok kiri. Di aspal sudah ada coretan “Cumbri”. Tinggal lurus saja ikuti jalan yang sudah ada sudah sampai di lokasi parkir.

Pendakian Bukit Cumbri
Kekonyolan yang saya ulang lagi adalah naik bukit di siang hari saat matahari bersinar terik. Dulu ketika saya naik Gunung Api Purba, Nglanggeran pertama kali juga siang hari. Waktu itu saya masih tertolong dengan banyaknya pepohonan di sepanjang jalur pendakian. Tapi kali ini mendaki Cumbri adalah hal yang lebih konyol lagi. Saya sendirian. Bawa bekal minum hanya 2 botol tanggung, tanpa makanan sama sekali. Dan kalau boleh saya gambarkan bagaimana kondisi di siang itu, saya hampir pingsan.
Mendaki Cumbri di jalur utama adalah rute tanjakan tanpa ‘bonus’. Kalau di Nglanggeran masih ada beberapa titik bonus (jalan datar) dan banyak pohon, di Cumbri jalan tanjakan terus dengan pepohonan yang minim.
Hal yang lebih menyakitkan adalah Puncak Cumbri sudah kelihatan dari bawah. Bahkan di Pos I kita sudah bisa berfoto dengan latar Puncak Cumbri. Tapi jangan dibayangkan setelah itu semakin mudah, justru semakin menanjak dan megap-megap saya karena siang itu teramat panas.

Dari Pos I sudah kelihatan Puncak Cumbri

Hari itu hari senin, tidak ada seorang pun yang piknik ke Cumbri. Saya sendirian naik dan tidak ketemu seorang pun di atas. Bagaimana perasaanmu di atas gunung kok tidak ketemu siapa pun? Saya hanya bertemu pencari rumput di bawah (sekitar pos I).  Selebihnya? Saya sendirian di Gunung, mungkin lebih tepatnya di bukit itu. Batuan besar, tebing curam, padang rumput yang gersang, matahari yang teramat panas, dan detak jantung yang makin tak karuan. Sejujurnya saya takut jika saya pingsan di sini, karena pasti tidak ada yang mencari saya. Tidak ada seorang pun yang saya beri tahu bahwa hari ini saya naik ke Cumbri.
Namun kebiasaan mbolang sendirian selama ini mengajarkan kepada saya untuk cermat mengukur kondisi. Dalam kondisi mata sudah berkunang-kunang kepanasan saya beristirahat di bawah pohon walaupun pohon kecil. Jalan 30-50 langkah menanjak di kondisi panas terik seperti ini sudah membuat saya ngos-ngosan. Saya harus istirahat, sembari istirahat saya melihat ke atas, berapa meter lagi ada pohon yang bisa saya gunakan untuk berteduh harus saya prediksi, sehingga ketika saya mulai jalan maka harus sampai di titik itu. Berhenti tanpa ada naungan pohon itu sama saja menyiksa diri.


Saya tidak sedang mau bunuh diri loh, hanya sedikit ngadem
Tiba di puncak saat adzan dzuhur berkumandang. Di puncak tak ada pohon yang bisa kita gunakan untuk berteduh, hanya batu besar yang menyisakan ruangan terlindung dari sinar matahari sedikit yang saya manfaatkan untuk meletakkan tas, melepas topi, menaruh kamera lalu rebahan di tanah. Ya Allah panasnya. Alhamdulillah batu ini bisa untuk berteduh. Satu jam 15 menit saya berjuang menggapai puncak. Saya berhitung, jika ini sore atau malam hari pasti lebih singkat karena tidak dihajar dengan panas terik.

Kejutan Horor
Saat saya rebahan saya tiba-tiba teringat sesuatu. Saya meraba dada, mencari kacamata yang saya selipkan di kaos yang saya pakai. Tidak ada. Tidak mungkin, padahal yakin sekali saya kacamata saya ada di situ, saya tidak membungkuk-bungkuk, tidak terjatuh. Lalu, di mana? Seketika itu saya merasa ada yang ‘usil’. Merinding membayangkan ketika saya ketemu yang tidak-tidak jika di puncak bukit, sendirian. Tidak mau berlama-lama saya mengambil beberapa foto lalu bergegas turun dengan setengah berlari.
Panasnya matahari tidak terlalu panas jika dibandingkan dengan ketika saya naik. Tiba-tiba di jalan setapak saya menemukan kaca mata saya kembali dalam posisi terlipat sempurna. Ambil, tidak, ambil, tidak, jangan-jangan. Ah sudahlah. Saya ambil lalu berlari lagi ke bawah. Saya istirahat sejenak di camping ground, tepat di bawah puncak. Di tempat lapang ini kita bisa mendirikan banyak tenda dan menyalakan api unggun. Tempat yang perfect menjelang puncak. Ya hanya di tempat ini saja ada bonus (jalan datar).
Separuh jalan saya turun baru bertemu dua orang yang ternyata juga dari Solo. Salah satunya mas-mas gondrong yang dilihat dari stylenya sudah biasa naik gunung bersama satu temannya lagi yang sedang megap-megap ketika ngobrol.

Obrolan Warung Mie
Sampai di bawah, saya langsung mampir warung memesan mie goreng telur dan es jeruk. Melepas sepatu gunung, kaos kaki lalu merebahkan diri di warung dengan alas bilah bambu yang luar biasa. Nikmat sekali rebahan di sini walaupun saat itu saya tahu kondisi tubuh saya masih amat sangat panas, keringat masih membanjiri seluruh tubuh walaupun saya sudah tidak berjalan dan kepanasan. Saya menyeka sesekali keringat di wajah, tidak ada semenit keringat membanjir lagi, begitu seterusnya hingga sekitar 10 menit keringat saya mulai berkurang.
Mie goreng, tempe mendoan dan es jeruk sangat nikmat siang itu. Dari pemilik warung ini pula saya mendapatkan banyak sekali cerita tentang Bukit Cumbri. Tentang bagaimana pengelolaan retribusi, tentang seberapa peduli pemerintah daerah terhadap wisata ini dan bagaimana perjuangan mereka (masyarakat setempat) mengelola kawasan wisata.
Selesai makan saya pun pamit pulang. Misi saya selesai, naik Cumbri sendirian. Total biaya yang saya keluarkan saat itu 74 ribu rupiah. Terdiri dari: 50rb BBM, 10rb minuman botol tanggung (2 biji), 9rb makan di warung, 5rb parkir.
Ada yang tertarik ke Cumbri? Datanglah sore hari lalu camping di sini, jangan mendaki di siang hari seperti saya. Itu gila.[]

Nanjak terus tanpa 'bonus'
Menjelang puncak yang makin ampun







2 comments:

Puppy Traveler said...

Paling asyik main di Cumbri. Gak perlu banyak tenaga, cukup bawa air minum aja karena panas hahaha.

Taufik said...

Puppy Traveler: Tapi kalau pas tengah hari panasnya kebangetan.. the hot is not public (panase ora umum) hahaha