Saturday, October 8, 2016

Berbagi Hewan Qurban (BHQ)


Sebelum saya menuliskan cerita ini, saya menegaskan bahwa saya menulis di sini sebagai fotografer yang diminta untuk membantu pelaksanaan program Berbagi Hewan Qurban (BHQ) Solopeduli. Kapasitas saya saya di tulisan ini sebagai fotografer lepas dan seorang travel blogger. 

Mencoba tantangan baru

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menjadi fotografer untuk fashion perempuan muslim, namun dengan berbagai pertimbangan saya putuskan untuk tidak melanjutkannya. Lalu jika hanya memotret liputan untuk tugas di pekerjaan utama saya sebagai reporter majalah dan sesekali memotret landscape saya merasa masih kurang, pengin sesuatu yang berbeda. Suatu saat saya ditelpon diminta untuk membantu mendokumentasikan program ini saya langsung jawab, ya.
***


Suara takbir berkumandang di mana-mana saat saya motoran menuju kantor pusat Solopeduli di Jebres. Malam itu saya masih mendapatkan briefing teknis di lokasi. Saya sebenarnya bukan orang yang terlalu suka dengan keribetan administrasi, namun saya coba untuk mengikuti panduan dan fokus untuk mendokumentasikan dengan hasil terbaik dalam waktu sesingkat mungkin. Malam itu saya menyiapkan peralatan foto yang saya punya, saya memang tidak berhitung nanti dapat uang berapa tapi saya ingin mencoba tantangan baru.

Canon 50D lawas beserta flash eksternal JJC semua dengan baterai lengkap dengan cadangannya. Esok paginya saya berangkat setelah sholat subuh menuju Waduk Cengklik. Setelah sholat Ied di dekat Waduk Cengklik saya bergegas menuju Karanggede, Boyolali bersama Darojat teman saya dalam misi kali ini.


Senapan serbu 50D

Misi kali ini adalah mendokumentasikan masing-masing hewan kurban, lengkap dengan nama sohibul qurban, dengan latar backdrop program, dan posisi hewan terbaik, tenang dan cakep. Di tempat yang cukup cahaya saya merasa sangat terbantu dengan mode sport dari 50D. Dengan kecepatan sekitar 6 fps - dalam satu detik bisa jepret 6 foto - sudah cukup untuk rangkap dokumentasi. Artinya, saat hewan mulai tenang dan dalam posisi terbaik segera berondong dengan mode burst.

JJC Kewalahan

Memotrer Outdoor siang hari tidak selalu mendapatkan pencahayaan yang bagus. Dalam posisi tertentu kadang susah mendapatkan hasil terbaik jika tanpa lampu flash. Siang itu kondisi dan keadaan kurang menguntungkan, saya berada di tempat panas sedang model yang saya foto - kambing, berada di tempat yang lebih redup. Sekitar 5 kambing pertama lancar, tanpa mode burst pun tembakan berkala masih sama- sama tercover oleh kamera maupun flash. Lebih dari 10 kambing, saya masih di tempat yang terik yang kalah pertama kali flash. Saya ingat betul bahwa baterai eneloop yang saya gunakan sudah saya charge. Siang itu belum lama digunakan sudah habis. Segera saya ganti dengan baterai eneloop cadangan. Ternyata sama, belum begitu lama.sudah gak kuat nyala, habis. Beberapa foto terpaksa menggunakan flash internal yang waktu pengisiannya lama sekali. Ya sudah, berarti JJC SF33 memang bukan untuk diajak 'perang'.

Ibu Instruktur Jagal

Dari sekitar pukul 9 pagi hingga adzan dzuhur 69 kambing telah selesai disembelih dan didokumentasikan. Mode burst di tempat yang cukup cahaya sangat membantu. Beberapa kambing setidaknya bisa saya jepret 6 kali dalam satu posisi dan hanya sekali pencet shutter. Sedetik dapet 6, selesai. Hal yang lebih menarik adalah ketika siang hari saat hendak menyembelih sapi. Ketika semua masih bingung bagaimana menjatuhkan sapi dengan cepat dan tanpa menyakiti, justru ada seorang ibu yang datang mengarahkan. Seberapa tali tambang yang dibutuhkan, diikat di posisi mana, menggunakan simpul seperti apa, detail sekali. Sekali tarik sapi perlahan merebahkan diri dengan tenang, tinggal menambah ikatan di tali lalu disembelih. Luar biasa.

GPS Offline Sangat Bermanfaat

Memilah daging di bawah Rumah Pohon
Program Berbagi Hewan Qurban ini memang ditujukan di daerah yang masih minim pembagian daging kurban. Tugas seorang fotografer adalah mengabadikan momen sebaik mungkin terkait penyembelihan, pencacahan, pembagian daging kurban, hingga ke pelosok daerah yang memang dijangkau untuk distribusi. Lokasi penyembelihan saat itu memang di Karanggede, namun pembagiannya sampai ke daerah Manyaran yang saat itu kami dari tim dokumentasi tidak hapal daerah. Kami dibantu oleh santri Al Hikmah untuk menuju lokasi, walaupun demikian harus tanya berkali-kali dan melewati banyak jalan ekstrim karena jalan utama sedang dalam perbaikan. Tidak jauh memang, hanya 5km dari tempat penyembelihan tapi jalur menuju lokasi memang tidak mudah. 

Ketika akan pulang pun penunjuk jalan kami tidak hapal jalan. Ini saatnya untuk membuka aplikasi Sygic Offline, lokasi penyembelihan sudah saya lock koordinat sejak pertama kali datang. Sehingga sampai serumit apa pun jalan yang dilewati ketika distribusi saya bisa kembali walaupun di situ tidak ada sinyal. Tinggal duduk manis menyalakan smartphone saya membonceng teman saya dan memberika navigasi rute. Alhamdulillah lancar. Bisa menuju titik awal tanpa harus bertanya ke penduduk sekitar.

Perjalanan Pulang

Saya masih menunggu administrasi selesai dikerjakan oleh tim dari Ponpes Al Hikmah, Boyolali. Menjelang isya administrasi selesai saya memutuskan segera pulang saja ke Solo karena masih harus laporan dan kroscek data dengan tim di pusat. Gas pol menuju solo. Nanti malam saya masih ada tugas lain yang lebih penting dan lebih istimewa.[]

Rebahan dulu ya Sapi :D
Senyum bahagia mereka

No comments: