Thursday, October 20, 2016

Pindahan ke coklatpanas.com


Enam tahun yang lalu saya membuat blog topixsolo.blogspot.com dengan harapan bisa belajar menulis dan mencurahkan ide yang saya punya. Itu saja. Sama sekali belum terpikirkan genre apa nanti tulisan yang saya buat, bisa untuk cari uang atau tidak, itu tidak penting. Saya berpikir, tiap episode kehidupan yang kita jalani itu adalah unik, istimewa. Perjalanan kehidupan - siapa pun itu - adalah hal yang layak untuk dicatat dan dikenang. Melalui blog saya ingin mencatat kepingan-kepingan kenangan agar tercatat dan jika ada hal yang baik, semoga bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Jika ada hal yang buruk, maka semoga dengan saya menuliskannya orang lain bisa menghindari keburukan tersebut.

Kenapa harus Coklat Panas?
Coklat itu manis, coklat itu romantis. Sepotong coklat batangan mampu memberikan asupan energi jika kita sedang melakukan perjalanan. Secangkir coklat panas mampu menenangkan gundah gelisah. Kehidupan tak harus muluk, sederhana saja namun indah, sederhana namun tetap bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ada tiga hal yang kemudian akan senantiasa saya bawa ke dalam coklatpanas.com ini.

Pertama, fotografi. Sebuah foto akan menceritakan banyak hal. Saya cinta fotografi sejak lama. Walaupun hasil foto saya masih pas-pasan tapi ada rasa tersendiri ketika mengabadikan momen dengan sebuah foto. Bagi saya foto itu adalah bookmark kehidupan. Dengan bookmark itu kita bisa membuka kembali dengan tepat kenangan tentang yang terjadi di masa lalu. Tepat di halaman kehidupan kita saat itu.

Kedua, kisah perjalanan. Setelah sekian tahun belajar menulis, saya merasakan bahwa saya lebih tertarik untuk menuliskan kisah perjalanan. Saya pusing jika harus disuruh menulis fiksi, berkhayal seolah memerankan kehidupan orang lain. Saya lebih bisa menulis apa yang memang saya lihat, apa yang saya alami, dan apa yang saya rasakan. Selama enam tahun ini pula saya banyak melakukan perjalanan, dengan jalan kaki, motor, mobil, kapal, pesawat. Banyak dari kisah hikmah perjalanan itu yang belum sempat saya tuliskan. Koleksi foto yang nganggur di hardisk yang belum sempat saya unggah masih amat banyak, sayang kalau hanya mengendap di sini.

Ketiga, selalu ada hikmah dari tiap kejadian. Hidup itu kumpulan pilihan. Tiap pilihan ada konsekuensinya. Apa yang akan kita putuskan hari ini akan membawa dampak di waktu yang akan datang. Ada banyak hikmah yang bisa dituliskan dari pengalaman hidup yang dijalani maupun melihat kehidupan orang lain.

Terima kasih untuk semua yang telah mampir membaca postingan di blog ini, yang telah mampir komen, maupun memberikan inspirasi untuk postingan blog ini.


Taufik

coklatpanas.com

Sunday, October 9, 2016

Rapat di Danau Tengah Sawah


“Ayo, ini masih nunggu siapa lagi?” teriak mereka yang sudah standby dengan motornya di luar kantor.
Bentaaar, kertas program kerja masih ketinggalan!” jawabku sambil menyahut kertas di atas meja lalu sesegera mungkin berlari ke luar.

Pagi ini kami segera meluncur ke daerah Boyolali. Tujuannya sederhana, rapat kerja untuk urusan kantor. Kebetulan pula, di kantor tidak ada yang tidak senang jalan-jalan, jadi jika ada acara yang ‘berbau’ piknik walaupun itu bagian dari bekerja, hayuuk deh.

Saturday, October 8, 2016

Rental Alat Gunung Recommended (Solo)

Merbabu itu rindu | Tenda Mas Bagonx

Curhat Dulu
Pernah nggak merasakan lagi bener-bener capek, ngantuk, dan pengin istirahat, mandi air hangat, lalu tidur sepulang dari naik gunung? Tapi harus pergi lagi keluar rumah untuk mengembalikan peralatan pendakian yang habis kita gunakan ke rentalan alat outdoor karena deadline waktu kalau lewat pasti kena denda. Beuh…motoran di jalan mau balikin itu udah mau tidur aja rasanya.

Berbagi Hewan Qurban (BHQ)


Sebelum saya menuliskan cerita ini, saya menegaskan bahwa saya menulis di sini sebagai fotografer yang diminta untuk membantu pelaksanaan program Berbagi Hewan Qurban (BHQ) Solopeduli. Kapasitas saya saya di tulisan ini sebagai fotografer lepas dan seorang travel blogger. 

Mencoba tantangan baru

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menjadi fotografer untuk fashion perempuan muslim, namun dengan berbagai pertimbangan saya putuskan untuk tidak melanjutkannya. Lalu jika hanya memotret liputan untuk tugas di pekerjaan utama saya sebagai reporter majalah dan sesekali memotret landscape saya merasa masih kurang, pengin sesuatu yang berbeda. Suatu saat saya ditelpon diminta untuk membantu mendokumentasikan program ini saya langsung jawab, ya.
***

Tuesday, October 4, 2016

Mendaki Cumbri, Sendiri


Saat ini, Instagram nampaknya sukses menjadi sebuah alat penebar ‘racun’ traveling  yang efektif. Tengok saja, gara-gara dia, banyak orang yang awalnya tidak suka naik gunung tiba-tiba mau bersusah payah jalan kaki naik gunung biar seperti kawannya yang lain. Gara-gara dia juga, lokasi wisata yang sepi tiba-tiba menjadi ramai pengunjung. Diakui atau tidak, kehadirannya mengubah banyak hal.
Perjalanan saya mendaki Bukit Cumbri ini contohnya. Saya sempat ‘terracuni’ oleh foto-foto yang beredar di Instagram. Walaupun memang, ‘racun’ itu bertambah kuat dari omongan kawan-kawan saya yang tinggal di Wonogiri.
Awalnya saya hanya ingin melihat foto-fotonya, tapi kemudian rasa penasaran itu semakin kuat. Selanjutnya, kalau saya sudah berburu koordinat dan memasukkannya ke dalam note, itu artinya suatu saat jika ada kesempatan saya pasti meluncur ke sana.