Renungan Pertengahan 2016



Ramadan tahun ini puasaku sudah bolong 3 hari. Tapi hal ini bisa aku syukuri karena tidak hanya bolong, tapi menjadi pertanda banyak hal. Pertanda bahwa sebagian impianku terwujud saat ini, pertanda bahwa fisikku tidak mungkin untuk dipaksakan lagi, pertanda aku harus lebih banyak bersyukur lagi dengan apa yang sudah ada.

Ramadan kali ini adalah semacam jawaban dari sekian impian yang pernah aku tulis dan tempel di almari beberapa tahun yang lalu. Aku pernah menuliskan, “Jadi seorang fotografer walaupun buta warna”. Entah kenapa, Ramadan kali ini aku mendapatkan tambahan pekerjaan selain masih menjadi wartawan majalah sekarang tambah fotografer di beberapa acara yayasan. 

Salah satu impianku beberapa tahun yang lalu adalah aku bisa melakukan kesenanganku dan dibayar untuk itu (hobi yang dibayar). Bagiku ini sudah bagian dari impian yang terwujud walaupun aku tidak ingin hanya seperti ini saja. Impian besarku adalah bagaimana dengan kamera aku bisa menjadi bagian dari mereka yang berjuang di bumi Syam. Jadi bagian dari mereka yang menyuarakan kebenaran di bumi yang diberkahi Allah Swt tersebut.

Wonogiri, Boyolali, Klaten, Karanganyar, hingga Purwokerto telah kudatangi Ramadan kali ini. Dalam bingkai tugas yang sama – fotografer. Ini hal besar yang harus benar-benar aku syukuri. Fotografi dan jalan-jalan yang dibayar, betapa ini sebuah impian yang sudah lama sekali aku inginkan. 

Sakitku selama 3 hari dan penyembuhan hampir sepekan bagiku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bonus jalan-jalan (walaupun dalam rangka tugas) yang aku dapatkan. Aku masih ingat ketika dari pagi hingga siang ada di kantor, sore hingga menjelang isya ada tugas dokumentasi di Klaten pulang hanya setengah jam untuk mandi lalu berangkat ke Purwokerto. Tiba di Purwokerto istirahat sejenak lalu tugas dokumentasi dilanjutkan perjalanan balik lagi ke Solo.

Perjalanan selalu menarik bagiku, di medan apa pun. Perjalanan, kesibukan, dan jadwal yang padat saat ini sangat aku cintai, sebesar cinta dan keyakinanku untuk menantikanmu. Kata Tere Liye, menunggu adalah pekerjaan untuk orang yang memiliki keyakinan. Dan aku yakin dengan apa yang aku lakukan, dengan apa yang aku tunggu.[]
Saat bertugas


Comments

Popular Posts