Tuesday, June 21, 2016

Plus Minus Nikon Coolpix L820


Kenapa harus Nikon Coolpix L820? Kenapa bukan kamera seri lain? Tiap orang pasti punya alasan masing-masing dalam memilih sebuah kamera. Sedikit cerita ini semoga bisa menjadi  bahan pertimbangan bagi yang ingin cari kamera sejenis.

Saat ini saya memang sedang butuh yang seperti ini. Kamera ringkas dengan sensor cmos, zoom panjang, wide-nya cukup terasa, video full hd, dan satu hal lagi yang paling penting - menggunakan baterai 4x AA. Kalau kepinginnya sih pengin mirrorless fujifilm, tapi berhitung anggaran juga. Hehe.

Kamera ini saya dapatkan dari membeli di lapak online dengan harga 1 juta. Mahal atau murah? Sebanding menurutku. Namun, incaranku sebenarnya bukan seri ini. Masih mengincar Nikon L610 dengan kemampuan yang hampir sama namun dengan bodi yang lebih kecil. Bodi lebih kecil, zoom lebih pendek, baterai menggunakan 2x AA saja. Tapi karena sulit mendapatkan seri ini akhirnya beralih ke L820.

Okey, lanjut ngobrolin L820. Kamera ini aku gunakan sebagai kamera cadangan untuk tugas reportase. Kamera utama kadang menggunakan Canon 600D, kadang Nikon D3000. Saat butuh cepat dan pergi dengan ringkas saya bawa si Coolpix (L820). Secara hasil memang tidak bisa sebanding dengan dua DSLR utama tadi. Namun ada hal-hal yang mengharuskan packing seringkas mungkin dan mendokumentasikan tanpa menarik perhatian sekitar - DSLR kadang terlalu menyolok.

Urusan di tempat yang remang atau low light, si Coolpix ini lumayan bisa diandalkan. Bahkan noise bisa lebih minim dibanding D3000. Untuk ketajaman mungkin kalah, namun noise di D3000 itu menurutku sangat parah. Hasil kerja si Coolpix masih bisa ditoleransi untuk keperluan materi foto pelengkap berita dalam majalah ukuran medium. Foto-foto yang utama memang tetap menggunakan DSLR, namun si Coolpix ini bisa menggantikan ketika situasinya menuntut lebih ringkas, tidak menyolok, bisa mengcover zoom yang lebih panjang dari lensa kit DSLR 18-55.

Apa kekurangannya? Tentu saja di hasil dan kinerja. Pertama, kualitas prosumer secara umum tidak jauh berbeda - kecuali prosumer premium ya. Detil gambar berpastel. Ketika di zoom hasil gambarnya zedikit ada efek pastelnya, walaupun prosumer dengan sensor cmos ini lebih minim pastelnya dibandingkan dengan yang menggunakan sensor ccd. Kedua, masalah getaran. Jangan harap memotret posisi zoom jauh akan semudah menggunakan DSLR dengan lensa tele ber IS/VR. Zoom jauh dengan si Coolpix ini menuntut kestabilan tingkat badai. Hehe. Untuk bisa mendapatkan hasil tanpa blur, kita harus tenang, tahan nafas, dan cari sandaran dinding, tiang, dll. Sangat sulit mendapatkan detil ketika zoom panjang. Apalagi obyek bergerak, harus tahan nafas dll masih ditambah dengan tembakan flash. Kalau tidak, jangan harap gambarnya tajam. Ketiga, susah fokus di zoom maksimal. Berbeda dengan kamera yang bisa melakukan fokus secara manual. Coolpix hanya bisa melakukan fokus secara auto. Artinya beberapa kondisi fokus yang ingin kita kunci nggak kena, kena belakangnya atau depannya. Kita harus mengulang dengan mengurangi zoomnya, mengunci fokus, tamah lagi zoommya, pencet shutter setengah.

Jangan berharap banyak dengan kamera yang memang bukan difungsikan untuk kinerja tinggi. Kalau ingin mendapatkan kinerja tinggi ya bayarlah kamera berkinerja tinggi dengan harga yang tinggi pula. Jadi kesimpulannya, si Coolpix ini cukup untuk mewakili kerja-kerja jurnalistik yang ringan. Ada harga tentu ada kualitas, tinggal bagaimana memgoptimalkan fitur dan kinerjanya. Serta tak lupa jangan memaksakannya bekerja melebihi kemampuannya. Semoga bermanfaat.[]


No comments: