Saturday, March 19, 2016

Pulau Kecil di Tengah Waduk Cengklik


Ahad pagi itu saya tiba-tiba kangen untuk ke Waduk Cengklik. Berharap keajaiban untuk mendapatkan view sunrise yang menentramkan hati. Walaupun ternyata tidak, ada hal seru yang saya dapatkan pagi ini. Lagi-lagi saya ke sini, sendiri. Selepas sholat subuh saya segera memacu motor membelah lengangnya jalanan Kota Solo di pagi buta. Tiba di Waduk Cengklik juga masih dalam keadaan gelap gulita. Dalam remang-remang cahaya lampu kelihatan beberapa orang yang masih tidur beralaskan tikar dan beratapkan langit lepas.

Mendung di atas kepala masih pekat. Sunrise tidak akan muncul pagi ini. Mencoba beberapa jepretan dengan shutter lambat menarik sepertinya. Akhirnya seperti inilah hasilnya.



Bergeser destinasi
Merasa tak ada view yang menarik untuk diabadikan saya bergeser di area waduk yang telah diubah menjadi persawahan dadakan. Ketika musim penghujan telah mencapai puncak, area pertanian ini hilang ditelan genangan air.

Saat saya datang memang sudah musim hujan, namun belum mencapai puncaknya. Saya memutuskan menyusuri 'galengan' berjalan menuju pulau di tengah Waduk Cengklik.

Ada rasa takut, tegang, namun penasaran saya lebih besar mengalahkan keduanya. Pada musim-musim tertentu, pulau ini dihuni banyak sekali burung. Pagi ini belum kelihatan apakah masih banyak burung yang tinggal di sana atau tidak.

Pulau kecil di tengah waduk
Tidak ada burung yang berkicau, tidak ada petani yang ke sawah, tidak ada nelayan yang tampak di sekitar sini. Sepi. Aku langkahkan kaki memasuki pulau. Sunyi seperti punya suara sendiri, memenuhi gendang telinga dengan sesuatu yang tidak kumengerti. Empat pohon ukuran sedang menyambutku di hadapan.

Semakin ke tengah pulau aku bisa melihat ke beberapa arah. Keramba di kejauhan, orang-orang yang nongkrong di tepian waduk kelihatan kecil sekali. Lalu tibalah aku di sebuah tanah lapang. Di sini terdapat lajur-lajur yang sengaja dibuat, semacam lahan untuk bercocok tanam. Entah hendak ditanami apa belum kelihatan. Di sebelah tepi pulau juga terdapat beberapa tanaman yang memang sengaja ditanam untuk menjaga pulau agar tidak tergerus air ketika waduk sedang full muatan air.

Semakin ke tengah semakin gelap suasananya. Rasa takut mulai menyergap. Aku memandang di kejauhan tampak pengunjung Cengklik mulai bertambah banyak. Mereka kelihatan kecil, kecil sekali. Jika ada sesuatu denganku di sini mungkin mereka sama sekali tidak melihat. Adakah hewan buas di sini? Aku mulai sedikit ragu melangkah. Aku menatap sebatang pohon yang tegak berdiri di depanku. Pohon itu mungkin semacam beringin karena dilengkapi dengan banyak sulur. Aku menoleh ke kiri. Ternyata tidak hanya satu, tapi beberapa pohon yang seperti ini. Aku beranikan memotret beberapa lalu berjalan semakin ke tengah.

Ada satu pohon lagi di tengah pulau. Pohon ini besar, jauh lebih besar dibandingkan yang lain, jauh lebih banyak sulur dibanding pohon lain. Khayalanku saat itu, jangan-jangan dibalik lebatnya sulur itu ada gerbang perlintasan menuju alam yang lain. Jangan-jangan dibalik lebatnya sulut itu keluar sesosok yang tidak ingin kutemui di sini. Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi penakut? batinku. Pohon ini paling besar dan paling seram di antara yang lainnya. Kalau tidak difoto pasti aku akan menyesal nantinya. Maka kuberanikan memotret dengan tenang dan dalam format RAW. Semoga nanti bisa ditampilkan secara mendetail di komputer.




Selesai memotret pohon paling besar perasaanku makin tidak enak. Entah kenapa biasanya lintasan perasaan yang muncul pertama kali menjadi semacam tanda yang sering tepat. Jadi, sebelum muncul kemungkinan-kemungkinan yang lain, aku segera balik kanan dan melangkah menjauh. Menyusuri kembali jalan setapak di tengah persawahan. Meninggalkan pulau kecil ini dan kembali mengambil motor yang kuparkir di trotoar tepi jalan. Satu rasa penasaran telah terobati. Saatnya pulang kembali.[]

2 comments:

kempor said...

dulu sering mancing disana, tapi nggak tahu kalau ada pulau ntu.
Salam dari anak Solo pak.

Taufik said...

Salam juga gan dari Solo. Kalau penghujan biasanya akses ke sana terputus, sesekali jalan-jalan ke tengah pulau waktu kemarau. hehe