Sunday, February 14, 2016

Catatan Senja Segalanya




Sepekan dari tanggal 7 Februari 2016, hari di mana aku haru belajar arti penerimaan hidup, aku kembali ke tempat ini. Kemuning. Bukan demi apa-apa bukan dengan siapa-siapa. Aku harus menata hidupku lagi. 

Duduk sendirian menghadap hamparan perkebunan teh aku kelihatan aneh. Semua orang di sini bahagia. Mereka duduk bertiga hingga berlima bercengkerama. Ada beberapa yang menyanyikan lagu dengan gitarnya, beberapa lagi sibuk selfie dengan tongsisnya, selebihnya menikmati santapan dari warung sederhana yang ada di kanan dan kiri jalur. Aku? Aku mungkin sudah lupa caranya bahagia. Aku hanya bertahan dan aku harus kuat bertahan.

Dua hari sebelumnya hujan lebat di mana-mana, hari ini matahari sore sedikit menampakkan diri. Aku membiarkan terpapar matahari sore dan angin sepoi-sepoi di kaki Gunung Lawu ini. Sesekali aku memotret setengah hati. Menggunakan format RAW berharap nanti di rumah bisa diolah jika mau. Lalu kembali menatap hamparan yang masih sama sejak tadi.

Melakukan perjalanan seorang diri memang tak akan mampu menyelesaikan semuanya, setidaknya dengan sendiri aku berharap bisa sedikit memperbaiki suasana hati. Aku masih bisa bertahan hingga beberapa waktu ke depan. Semoga. Jika ini belum mampu mengobati maka aku akan naik gunung lagi, sendiri. Aku punya banyak foto dan video, namun aku malas untuk posting di facebook. Aku punya banyak stok foto bagus namun aku tak mau ganti foto DP BBM dan WA. Aku rasa aku akan tetap bertahan seperti ini. Jika aku tak sanggup membuat orang lain bahagia, maka biarkan aku tidak membuatnya berduka. 

Janji adalah janji. Sepekan yang lalu aku tepati janji itu. Biar aku seperti ini hingga menemukan kembali arti kebahagiaan itu, atau kebahagiaanku adalah melihatnya bahagia. Cukup. Dan aku tak akan menyesali kehidupan ini jadi seperti apa pun keadaannya.