Sunday, October 18, 2015

Gunung Api Purba Nglanggeran (Sendirian)


"Kayaknya Pak Taufik lagi embuh," komentar atasanku ketika tahu bahwa malam nanti aku bakal naik gunung sendirian. Dalam hati aku meng-amin-i kata-kata itu. Saya memang sedang 'entah'.
Ya Allah, jika saya tidak bisa membuatnya bahagia setidaknya ijinkan saya untuk tidak membuat sedih dia. Maka mungkin, menyendiri adalah pilihan yang paling tepat ketika saya sudah tak kuat lagi - itu yang senantiasa terngiang dalam hati maupun doa-doa yang terucap.

Karangasem, pagi itu
Aku tiba di kantor masih pagi. Segera aku bongkar muat dan packing ulang perkap yang akan aku bawa malam nanti mendaki Nglanggeran, sendirian. Packing ringkas tapi tetap safety. Tas carrier 70 liter lengkap dengan covernya dan berisi; tenda, flysheet, matras, kamera, sleeping bag, kompor, gas kaleng, perkap masak, logistik, korek, senter, pisau lipat, belati, peralatan mandi, pakaian ganti, dll.
Banyak yang heran melihat niatan 'konyol' itu. Ya Allah, saya tidak minta dikagumi, tidak minta dipuji. Saya ingin sedikit bahagia. Andaikan semua hal yang mereka anggap 'keren' ini bisa ditukar dengan kebahagiaan yang sederhana, aku ingin menukarnya.



Bismillah sore berangkat
Perjalanan menyusuri jalanan menuju Yogyakarta kala sore memberikan nuansa tersendiri. Lalu-lalang kendaraan yang hendak pulang seperti bercerita, mereka sudah ada yang menanti di rumah. Aku masih terus memacu motorku perlahan, menikmati senja yang makin tenggelam di tengah hiruk-pikuk jalan raya.
Sekali aku berhenti ketika matahari begitu indahnya bersinar. Dalam hati aku berkata, sunset sempurna, kenapa aku selalu menemukannya di tempat dan waktu yang 'tidak sempurna'.


Perjalanan aku lanjutkan lagi. Hari makin gelap. Sudah maghrib rupanya. Aku mengambil jalan dari Prambanan menuju Piyungan lalu ke Bukit Bintang. Bukit Bintang cukup ramai, sebentar aku menengok ke kanan, lalu lurus lagi. Sesekali menegakkan punggung membetulkan posisi carrier yang agak melorot dari punggung.
Koramil Patuk telah aku lewati. Jalanan ramai kini berganti menjadi jalan kecil yang sepi, sesekali aku didahului oleh motor penduduk, hanya beberapa. Selebihnya aku sendirian menikmati hembusan angin petang yang sudah agak dingin di kulit. Jalan menuju lokasi masih sama dengan dahulu ketika aku ke sini, sepi dan gelap. Hanya ada beberapa lampu saja selain lampu rumah penduduk.

Nglanggeran, aku datang, sendirian
Petugas parkir mendatangiku, memastikan aku sendirian. Tidak ada raut kaget ketika melihat aku sendiri, karena memang ini hanya bukit, dan pasti sudah banyak yang sendirian juga seperti aku.
Aku sholat maghrib dan isya di mushola dekat loket masuk. Sepi. Hanya ada satu jamaah saja, mereka adalah mahasiswa yang hendak pulang setelah seharian di Nglanggeran.
Selepas sholat aku meyiapkan diri. Mengencangkan sepatu, ikat pinggang, menyiapkan senter, pisau, belati, kamera dan yang lainnya. Tak ada keraguan sedikit pun ketika hendak memulai perjalanan ini. Ini yang aku butuhkan, sendirian. Aku tidak 'pergi untuk dicari' karena aku tahu hidup tidak sebercanda itu. Aku pamit ke orangtua, setidaknya jika nanti ada apa-apa mereka tahu aku ada di mana, itu saja.
"Mas, mau naik? mau camping di atas?" sapa salah seorang wanita gemuk bersama teman-temannya.
"Iya Mbak, masih ada yang di atas?" sahutku.
"Serius sendirian? Nggak lagi stres kan Mas?" (hedeh kenapa pertanyaanku nggak dijawab)
"Iya Mbak, sendirian"
"Gila lu Mas, Gue aja rame-rame takut gelap gini. Lha elu sendirian..."
"Saya nggak gila Mbak, paling cuma dikit," jawabku asal.
Hufftt... perjalanan dimulai. Anak tangga aku lewati dengan mantab sambil berusaha menjaga ritme jalanku agar tidak terlalu cepat namun juga tidak lambat. Nafasku makin berat, lama nggak joging ngefek juga ternyata. Baru segini dah ngos-ngosan.
Bayangkan rasanya berjalan sendirian dalam cahaya remang-remang lampu kuning di awal trek Nglanggeran. Serem. Sumpah. Adrenalin rasanya mengalir deras dalam tubuh. Tiap kaki melangkah rasanya makin berat namun juga makin tak mungkin aku kembali. Ini adalah pilihan. Lorong Sumpitan telah terlewati dengan agak tersendat karena aku membawa carrier dan ada tripod besar di samping.
Lepas dari Lorong Sumpitan rasanya makin menantang. Ingat dengan beberapa tikungan yang pohonnya lebat dan cukup gelap meskipun siang hari? Nah, di tiitk ini aku makin sering nengok ke belakang. Empat langkah, lima langkah tengok belakang sambil menyorotkan senter.
Tiap pos aku berhenti istirahat. Satu hal yang kusesali, kamera yang tak bawa tak mampu melakukan LongShutter, gagal deh menangkap kerlap-kerlip lampu maupun suasana remang-remang di kegelapan.

Ketika dua orang itu datang
Antara Pos II dan Pos III tiba-tiba ada yang mendatangiku. Orang, bukan, orang, bukan, itu yang ada dalam pikiranku. Alhamdulillah orang.
Cowok-cewek yang mau ikut bareng ke puncak. Ganggu uji nyali aja batinku. Tapi lumayan sih, paling nggak kalau ada monyet mau nyerang tiga orang pasti juga mikir-mikir. Sejujurnya sendirian ke sini yang paling aku takutkan adalah kawanan monyet yang dulu pernah aku lihat menyerbu tenda ketika minggu pagi. Kedua, apa lagi, tentu saja setan. Sendirian masuk hutan, malam-malam lagi. Alhamdulillah selama ini nggak pernah ketemu yang ‘aneh-aneh’ jadi ya moga kali ini juga sama.
Nggak ada sejam udah nyampe puncak. Di sini nggak ada apa-apa. Hanya batu kosong yang aku berdiri di atasnya diterpa angin yang jika aku diam setengah jam dijamin masuk angin. Angin sangat kencang . Aku sudah malas mengeluarkan kamera, percuma. Nggak bisa longshutter nggak ada gregetnya fotografi malam.

Ketika aku hanya pindah tidur
Dua orang tadi pasang tenda sendiri, aku pun juga demikian. Cari tempat yang aman dari angin, buka carrier, pasang tenda lalu rebahan sebentar. Masih ada sinyal sesekali. Pintu tenda masih kubuka. Aku melihat lepas ke langit, rembulan bersinar cukup cerah. Beberapa saat kemudian, kabut mulai muncul. Cukup pekat.
Segera aku buka kompor, masak mie, makan camilan lalu tutup tenda. Belum bisa tidur. Masih berpikir kenapa aku harus ke sini, sendirian.
Tidak berapa lama bumi bergetar. Gempa.
Aku terbangun. Berteriak ke tenda yang lain apa memang gempa. Ternyata benar. Beberapa saat kemudian ada broadcast masuk ada gempa di Yogyakarta. Ah sudahlah.
Hawa dingin ini. Ah, ini yang sudah lama aku rindukan. Buka SB masuk di dalamnya lalu miring ke samping. Aku peluk erat dia lalu tidur dengan nyenyak sekali (dia: carrier, siapa lagi).
Esok pagi pukul 04.30 aku keluar tenda. Loh masih gelap?
Ya gelap, emang udah ada matahari jam segitu, batinku konyol.
Bangun pagi, cuci muka dengan tisu basah, lalu menyiapkan jas hujan untuk sajadah, dan sholat subuh. Selesai sholat, bongkar tenda, packing dan memastikan semua terpasang kuat di badan lalu aku turun.

Lari dari kenyataan
Sengaja aku memang kejar waktu harus sampai kantor sebelum jam masuk sehingga aku masih bisa mandi dan sarapan. Maka aku turun dengan lari. Bukan orang hebat, aku hanya ingin merasakan kaki njarem badan rasanya nggak karuan. Itu saja. Karena ternyata yang seperti itu sedikit ‘mengobati’.
Sudah tak perlu senter lagi pagi ini. Tiap aku melewati tenda tak ada yang bangun. Mereka masih nyenyak dengan tidurnya. Biar. Aku sudah mulai basah keringat di 5 menit pertama. Minum seteguk air lalu lari lagi. Trek ini sudah tak asing bagiku, namun lari sendirian rasanya berbeda. Aku terus berlari. Kata orang, impian itu layak dikejar. Maka aku terus berlari dan di menit ke 15 sampailah di parkiran.
“Loh kok nggak nunggu sunrise Mas?” sapa bapak yang di parkiran. Dia yang sudah bangun di antara petugas lain yang masih molor.
“Iya Pak, saya harus masuk kerja hari ini. Sunrise di puncak Nglanggeran saya pernah memotretnya dulu. Semoga lain waktu bisa agak longgar ke sini lagi,” jawabku.

Akhirnya sunrise juga
Matahari bersinar dengan kuning lembut dan mendamaiakan, ketik itu aku sudah sampai di Piyungan menuju Prambanan. Aku membayangkan mereka yang di puncak Nglanggeran, pasti baru heboh foto-foto. Aku udah pernah kok. Kali ini biar sunrise menemaniku memacu motor yang larinya sudah nggak bisa lebih dari 100kpj menyusuri jalanan Yogya-Solo yang masih lengang.
Aku nggak tau kenapa harus melakoni ini. Tapi aku hanya tau, ini akan membuatku sedikit lebih baik. Yah, aku baik-baik saja. Pagi ini aku masih hidup, alhamdulillah masih sehat, alhamdulillah nggak ketemu setan, dan matahari pagi ini hangat sekali. Sepoi angin juga masih bersahabat.


Aku datang kembali. Datang kepada sebuah kenyataan yang harus aku hadapi. Ya, aku baik-baik saja.[]

No comments: