Saturday, October 31, 2015

Snorkeling Pantai Sadranan


Setelah menulis tentang snorkeling pantai Nglambor beberapa waktu yang lalu, saya ingin sedikit mengoreksi. Pantai Sadranan ternyata lebih seru untuk snorkeling. Hahaha. Semua memang memiliki ciri khas masing-masing dan tentu kamu bakal menemukan kekhasan lokasi tersebut dengan mendatanginya secara langsung. Membaca postingan blog akan sedikit memberikan gambaran lokasi, tapi tetap untuk menikmatinya kamu harus mendatanginya secara langsung. 

"Kalau di Sadranan airnya cuma segini, di Nglambor udah hampir kering Mas," kata seorang yang menyewakan peralatan snorkeling di Sadranan. Apa yang dia katakan memang benar, karena kami tiba di Sadranan karena kecewa dengan Nglambor ketika siang hari airnya sangat minim. Berharap untuk snorkeling? jangan harap, untuk sekadar membasahi badan seluruhnya saja cukup susah.

Tuesday, October 20, 2015

Bagaimana Memotret di Malam Hari?



Gagasan tulisan ini muncul bermula dari pertanyaan seorang kawan yang jadi pengajar dan telah lebih banyak jelajah nusantara dari pada saya sendiri. Bisa disimak pengalamannya di sini (blognya Anisse).

"Bagaimana sih memotret di malam hari agar hasilnya bagus?"

Mungkin ada juga yang banyak menanyakan hal serupa. Jadi saya mau menuliskannya sekalian jadi sebuah artikel tutorial singkat.

Berangkat dari niat
Apa niat awal kita? Mendapatkan foto dokumentasi kejadian penting atau ingin mengabadikan sebuah suasana? Berangkat dari niat inilah kemudian kita baru otak-atik kamera dengan setting yang sesuai. Bagi mereka yang hanya ingin mengabadikan kejadian penting maka dibutuhkan gambar yang tajam dan terang. Bagi mereka yang ingin mengabadikan suasana maka sebisa mungkin foto yang dihasilkan mendekati realita, mirip dengan apa yang dilihat oleh mata. Jadi dengan foto itu bisa menceritakan nuansa, suasana, atau mungkin perasaan yang muncul saat orang melakoni dan merasakan langsung seperti di lokasi.

Sunday, October 18, 2015

Gunung Api Purba Nglanggeran (Sendirian)


"Kayaknya Pak Taufik lagi embuh," komentar atasanku ketika tahu bahwa malam nanti aku bakal naik gunung sendirian. Dalam hati aku meng-amin-i kata-kata itu. Saya memang sedang 'entah'.
Ya Allah, jika saya tidak bisa membuatnya bahagia setidaknya ijinkan saya untuk tidak membuat sedih dia. Maka mungkin, menyendiri adalah pilihan yang paling tepat ketika saya sudah tak kuat lagi - itu yang senantiasa terngiang dalam hati maupun doa-doa yang terucap.

Karangasem, pagi itu
Aku tiba di kantor masih pagi. Segera aku bongkar muat dan packing ulang perkap yang akan aku bawa malam nanti mendaki Nglanggeran, sendirian. Packing ringkas tapi tetap safety. Tas carrier 70 liter lengkap dengan covernya dan berisi; tenda, flysheet, matras, kamera, sleeping bag, kompor, gas kaleng, perkap masak, logistik, korek, senter, pisau lipat, belati, peralatan mandi, pakaian ganti, dll.
Banyak yang heran melihat niatan 'konyol' itu. Ya Allah, saya tidak minta dikagumi, tidak minta dipuji. Saya ingin sedikit bahagia. Andaikan semua hal yang mereka anggap 'keren' ini bisa ditukar dengan kebahagiaan yang sederhana, aku ingin menukarnya.