Sunday, August 23, 2015

Tek Tok Gunung Andong



Kepada siapa, aku harus meminta maaf. Sepatu ini terpaksa harus turun kembali dari tempat 'gantung' nya untuk kembali menapaki jalanan berdebu, jalan yang panjang, sendirian. Aku merasa ini adalah lebih baik, daripada harus ada orang lain yang ikut merasakan perasaan yang tak ingin aku rasakan. [Sebuah prolog perjalanan]

Gunung Andong. Sebuah gunung kecil, kami menyebutnya 'bukit belakang sekolah' seperti yang ada dalam Doraemon. Tempat indah yang mudah dijangkau siapa saja. Tempat yang menawarkan sebuah pilihan ketika seseorang harus menyendiri.

Kali pertama aku datang menaiki gunung ini, rame-rame. Merasakan serunya kebersamaan. Merasakan serunya berkemah, menikmati secangkir kopi panas dan mie instan di pagi hari yang dingin. Merasakan salat subuh yang syahdu di tepi jurang. Sesaat selepas matahari terbit berfoto ria, menjelang siang kabut mulai naik, dan kami pulang.

Kali ini aku sendiri. Perjalanan yang dulu harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 2 jam kali ini tepat 60 menit saja untuk naik dan 40 menit untuk turun. Tepat 100 menit perjalanan untuk merasakan TEK TOK di Gunung Andong ini. Kalau mereka yang fisiknya kuat harusnya lebih singkat lagi, durasi ini adalah durasi waktu yang sama yang digunakan ibu-ibu penjaga warung di atas puncak Andong.