Saturday, June 27, 2015

Pesona Senja Waduk Lalung



Apa yang terlintas dalam benak kita saat disebut kata senja?
Sebuah perjalanan pulang? Keluarga yang sedang menanti di rumah? Pekerjaan hari ini yang melelahkan, ingin segera merebahkan badan, atau jawaban yang serupa lainnya? Apa pun itu, senja tetap lah senja. Yang dengan lembut cahayanya mampu menenteramkan tubuh lelah setelah seharian bekerja.
Berbicara tentang senja, kita tentu ingat indahnya matahari yang terbenam di garis horison barat dengan damai. Bagiku, tiap senja selalu punya cerita, tiap senja selalu ada cinta. Begitu pula yang kurasakan sore ini, di sini, di sebuah waduk kecil di Karanganyar, Jawa Tengah.

Postingan ini diikutkan Lomba Blog Visit Jawa Tengah
Bisa dibilang aku seorang pecinta senja, dan caraku mencintainya kali ini dengan duduk sendirian di tepi air waduk yang tenang, menghadap ke arah barat, menyaksikan sang mentari yang perlahan tenggelam. Menit-menit yang indah itu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Beberapa tempat telah kujelajahi, baik itu di ketinggian maupun di dataran rendah. Namun ternyata tempat ini yang paling simpel, tidak jauh dari rumah namun pemandangannya sungguh indah. Waduk Lalung, Karanganyar, Jawa Tengah.

Mungkin banyak yang akan bertanya di mana kah Lalung itu? Tempat ini memang tidak begitu terkenal, bagi penggemar Landscape masih lebih familier dengan Waduk Cengklik di Boyolali atau Gajah Mungkur di Wonogiri. Namun di sini, semua menjadi lebih sederhana. Kita hanya perlu datang dengan motor, menyusuri jalanan berpaving yang ditumbuhi rerumputan di sekitarnya, kemudian setelah dekat dengan lapangan kecil turun dan mendekat lah ke air. Maka, padang rumput ini akan bercerita, sepoi angin ini akan bercerita, ini adalah sejengkal keindahan yang sederhana namun sarat makna.

Secara koordinat Waduk Lalung berada di titik -7.616974, 110.936855. Bisa dicari dengan aplikasi GPS baik offline maupun online. Atau yang paling simpel dengan tanya ke penduduk Karanganyar, pasti dikasih tau. Tempat ini tidak jauh dari Kota Karanganyar, cukup mengambil rute dari Taman Pancasila ke selatan lurus maka kita akan menemukannya di kanan jalan.

Di tempat ini aku bertemu banyak orang. Mereka para pencari ikan, pehobi memancing, seorang ayah yang mengajari anaknya keindahan alam dan menangkap ikan, orang-orang yang menumpahkan keluh kesahnya dalam diam, orang-orang yang duduk berduaan, terakhir aku sempat banyak berbincang dengan seorang anggota TNI tentang kehidupan, tentang arti perjuangan, tentang agama, tentang keluarga, dan yang lainnya.

Kami menikmatinya. Suasananya sangat tenang, ritme kehidupan seolah melambat di sini. Dari kejauhan kami masih bisa melihat hiruk-pikuk lalu lintas sore hari, dari kejauhan. Selepas itu kami menghadap ke barat lagi, menikmati senja.

"Dunia tak pernah habis kita kejar mas," tutur Pak Wahyudi kepadaku.
"Benar, pak," jawabku tenang. 

Bapak TNI dua anak ini kemudian banyak bercerita semasa tugasnya di Papua. Bercerita tentang perjuangan hidup mati seorang prajurit, bercerita tentang kehidupan yang kadang berlaku tidak adil namun kita harus menghadapinya. Aku mendengarkannya dengan seksama.

Niatanku memotret banyak pemandangan aku tunda. Senja esok akan kembali, langit berwarna syahdu itu pasti akan datang lagi, tapi kisah kehidupan sore ini tak mungkin terulang lagi esok hari. Kami berbincang hingga matahari tepat hampir tenggelam. Langit sudah sangat berwarna orange, jingga atau mungkin warna lainnya? Entah lah, aku seorang parsial yang tak mampu menangkap banyak warna.

"Maaf mas, kalau mau motret silakan lho," mengingatkanku.
"Terima kasih Pak, saya permisi sebentar," pamitku sambil berdiri.

Pemandangan masih indah, beberapa nelayan berhasil menangkap ikan. Tidak banyak, sekadar cukup dibawa pulang untuk lauk makan esok hari. Tapi ada kebahagiaan lain yang dia dapatkan di sini, tidak semata-mata tentang tangkapan ikannya. Tempat ini memberikan kebahagiaan bagi banyak orang, nelayan itu, tentara itu, dan juga aku.

Sore ini aku tak bawa tripod, karena sebenarnya aku selalu dadakan ketika hendak mengabadikan senja. Saat langit siang itu berwarna sangat biru dan cuaca panas, saat di mana siang hari kita merasa silau walaupun sekadar menatap pekarangan di luar rumah, saat itu lah pertanda bahwa senja sore nanti begitu indah. Tentu ini bukan sebuah rumus pasti, karena ini adalah tentang rasa, maka kita akan bisa menangkapnya dengan perasaan pula.


Karena senja selalu punya cerita. Karena senja selalu punya cinta. Aku mencintainya sore ini, esok hari, lusa, mungkin selamanya.


No comments: