Thursday, June 18, 2015

Pendakian Gunung Prau #3



Kopi dalam genggamanku telah dingin, lebih cepat dari yang kuharapkan. Pun demikian aku masih saja menyeruputnya sedikit demi sedikit, seolah masih panas. Kopi dan pemandangan selalu memberikan kesan tersendiri. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja. Aku hirup dalam-dalam udara dingin ini, melihat sekeliling, lalu memejamkan mata menikmati angin yang berhembus di antara rerumputan, menggerakkan dedaunan, mengibaskan flysheet tenda dan berbisik perlahan di samping telinga.

Selalu ada cinta di alam, entah sendirian atau pun dalam keramaian.


Kadang aku ingin menuliskan catatan-catatan perjalanan secara langsung di tempat itu juga, tapi ternyata momen itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Akhirnya hanya beberapa catatan kecil untuk point saja, bahwa di tempat ini ada hal indah yang ingin aku ceritakan kelak. Kepada siapa pun yang membacanya, entah dia akan pergi ke tempat ini atau sama sekali tidak pernah suka naik gunung, bahwa tempat ini indah.


Jelajah bukit teletubies
Perut telah terisi aku mengambil kamera lalu berkeliling, naik satu bukit ke bukit yang lain. Sekadar penasaran, aku tidak terlalu berharap mendapatkan puncak. Ternyata apa yang ditulis orang bahwa tempat ini adalah bukit teletubies benar adanya.

Hamparan rumput yang hijau merata dengan ada beberapa bukit kecil, mungkin tepatnya banyak bukit kecil. Jangan pernah cukup berhenti di satu bukit, karena keindahannya tidak hanya berhenti di situ. Aku berjalan menyusuri jalan setapak di antara bukit-bukit yang entah jumlahnya berapa sambil kamera tetap terkalung di leher. Sampai kemudian ketemu satu orang yang mengalungkan 3 DSLR di pundak dan lehernya, satu dengan lensa tele, satu dengan lensa wide, satu dengan lensa fisheye – niat banget, dalam batinku.

“Mari…,” ucapnya padaku.
“Coba ke ujung sana mas, gak akan kecewa. Prau benar-benar indah mas, dari ujung sana gunung-gunung kelihatan semua, tebing-tebing berlayer-layer,” tambahnya menyemangatiku untuk terus berjalan hingga ke ujung.
“Oh ya, sudah puas dari sana mas?” tanyaku polos.
“Luar biasa, pokoknya mas harus ke sana!” tegasnya.

Benar, aku bersama yang lain bergegas ke ujung membuktikan omongan orang yang barusan ku temui. Dan ini lah, pesona Prau yang paling membuat takjub para pendaki. Ini belum seberapa, karena ketika musim cerah bisa bakal menikmati sunrise maupun sunset dengan view yang lebih memukau lagi.



Puas-puasin sampai awan naik dan kabut turun
Orang bilang, golden hour untuk pecinta landscape itu ketika matahari terbit dan satu dua jam sesudahnya. Kalau di gunung, hal ini memang benar, sangat benar. View terbaik adalah pada jam-jam tersebut. Selebihnya, gunung-gunung di seberang, tebing-tebing yang tampak tajam mengagumkan mulai hilang, tertutup kabut, gelap. Jangan sampai kelewat moment untuk memotret di jam tersebut. Karena seringnya selanjutnya di mana-mana yang kita lihat kabut.

Kita musti mengubah mood, dari semangat pagi yang cerah menjadi puncak gunung yang syahdu berkabut. Semua indah. Nikmati lah, karena semua adalah anugerah.

Pulang tersesat
Aku memang bukan orang yang berpengalaman banyak di gunung, namun aku bersama orang-orang hebat di alam. Mereka sudah banyak berpengalaman, jauh berbeda denganku.

Perjalanan turun ini mengajari kami bahwa sekuat apa pun ingatan kita, alam sangat mudah mengecoh. Maka dari itu sekali-kali jangan sombong di alam, teguran untuk diriku juga.

Kami berangkat dari basecamp Kalilembu, namun turun mengambil jalan –yang menurut kami kembali ke Kalilembu, namun pada kenyataannya itu menuju basecamp Dieng. Sudah hampir setengah jalan, terpaksa kami kembali ke atas dan mencari jalur yang benar. Alhamdulillah, ketemu. Anggap lah ini bonus perjalanan.



No comments: