Pendakian Gunung Prau #1


Bagiku perjalanan itu obat penenang. Masalah memang tidak akan selesai ditinggal pergi, tapi dengan batin yang tenang dan damai masalah bisa dihadapi dengan lebih bijak. 

Aku menjemputnya di sini, di dataran tinggi Dieng. Daerah dengan sejuta pesona bagi siapapun yang pernah mengunjunginya. Dan kali ini aku yang ke sana, menjemput pesona itu, menelan 'pil penenang' untuk melanjutkan hari-hari berikutnya. 
***
Kami memang bukan orang-orang kaya. Sebenarnya agak berat jika harus 'dolan' dengan menyewa mobil, namun pertimbangan waktu dan keselamatan maka opsi ini yang kami ambil - daripada harus motoran. Bagi yang sering naik gunung pasti tahu gimana rasanya perjalanan pulang setelah turun gunung. Hmmm, mata udah mirip lampu 5 watt, motoran bisa tiba-tiba menepi ke kiri ke kanan.

Solo - Wonosobo itu jauh, bagi orang yang hanya punya hari libur hari minggu tentu ini adalah tantangan tersendiri gimana caranya bisa mendaki Prau dengan aman, nyaman dan menyenangkan, belum lagi berhitung estimasi sewa mobil yang tentu lebih dari 24 jam. Ini baru berbicara perhitungan kasar, belum lagi teknis keberangkatan, kumpul di mana, masih harus menjemput siapa, alamatnya mana, dan jangan lupa kalau sabtu malam itu jalanan macet. 

Rencana berangkat sore hari gagal karena perhitungan teknis yng meleset. Akibatnya satu orang batal berangkat karena sudah lelah menunggu, satu orang lagi moodnya tinggal setengah. Hehehe

Pukul 20.00 WIB baru lepas dari Kartosuro, masih harus menjemput 3 orang lagi di Boyolali baru melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Masihkah optimis dengan puncak Prau? Aku sih masih. Walaupun dalam batin tidak yakin, tapi impian itu masih bulat, pasti bisa. 

Dari 7 orang yang ada di dalam mobil ternyata tidak ada satu pun yang tau rute jalan ke sana. Gubrakkk. Berangkat malam hari, gak hapal jalan, ya sudah lah. Ponsel androidku yang ram nya hanya 256 aku siapkan, gps aktif, paket data aktif, buat rute dan perjalanan pun terus berlanjut. Dengan perjalanan mobil yang cepat, langit mendung dan ram minimalis apakah ponsel ini kuat? Tentu tidak kawan, genap 5 menit bernavigasi dia mati, bootlop, dan gak mau hidup lagi. Ya sudah, mungkin dia lelah. Ganti android lain yang memandu gps an. 

Kami hanya set rute navigasi dari lokasi kami saat itu ke Patak Banteng, berdasarkan google basecamp tersebut merupakan basecamp Prau yang rutenya paling enak, hanya 3 jam mendaki. Apakah masalah navigasi selesai? Ternyata belum. Google membuatkan jalur alternatif menjelang masuk wilayah Dieng. Kami diajak menerobos satu jalur yang benar-benar gilaaaa.

Memacu Adrenalin
Pernah lihat jalan yang digunakan orang untuk ke ladangnya yang di lereng bukit? Jalur yang hanya muat untuk lewat satu mobil, iya hanya satu mobil dan tidak mungkin bisa simpangan. Di sebelah kiri ladang sayur, di sebelah kanan jurang, jalannya aspal pecah dan tanjakan terjal. Jam berapa waktu itu? Entahlah, yang pasti menjelang tengah malam. Alhamdulillah gps masih nyala, rutenya memang benar, satelit masih ter lock, jadi memang benar ini jalannya - walaupun dalam hati aku meragukannya.

Dalam kondisi seperti ini masih banyak hal yang bisa disyukuri. Alhamdulillah, kawanku yang pegang kemudi mantan driver ambulans, mantan komandan rescue yang sudah pengalaman bawa mobil di daerah bencana. Alhamdulillah gps masih nyala, karena tidak mungkin ada yang bisa kami tanyai jam segini, lagipula juga tidak ada rumah, hanya ladang, kebun, gubug kosong dan kabut. Oh tidak, kabut mulai turun. 

Ada yang tau apa artinya kabut ketemu lampu mobil standar? Artinya kita tidak bisa melihat lebih jauh. Mobil sewaan yang sehari-hari jalan di kota jangan berharap terpasang lampu kuning untuk menembus kabut. 

Bismillah, mobil terus melaju perlahan, zig zag di jalur sempit padahal sebagian badan jalan ada yang longsor juga. Jika ada apa-apa di lokasi ini tidak ada yang tahu, tidak ada yang lewat dan tidak ada yang menolong. Lengkap sudah kekhawtiran kami. 

Semua mata terjaga, waspada, siaga. Aku yang duduk di jok paling belakang terus memantau layar gps ponsel yang ada dalam genggamanku. Tiap menjelang tikungan tajam aku meng kode. Kabut makin pekat, jalanan makin tak terlihat, musik yang sejak berangkat mengalun ceria sejenak dimatikan. [Bersambung]

Comments

Popular Posts