Thursday, February 27, 2014

Canon 400D DSLR Pertamaku

Saya menuliskan tentang sesuatu barang, biasanya ketika barang tersebut sudah tidak lagi berada di tangan. 

Entah karena kebiasaan atau memang saya lebih bisa menuliskan dengan detil ketika sudah cukup lama memegang barang tersebut. 


Sama seperti kamera saya sebelumnya, saya membuat tulisan review ketika kamera tersebut sudah laku terjual dan di gantikan dengan kamera yang lain.

Kali ini adalah tentang sebuah kamera DSLR besutan Canon, yakni EOS 400D. Kamera ini di daulat sebagai penerus dari seri sebelumnya 350D. Alasan klasik kenapa saya memilih kamera ini adalah "kantong", karena memang anggarannya cukup sampai pada kamera ini.hahaha... 

Tapi walaupun demikian, ini sudah menjadi impian saya sejak lama bahkan sampai masuk dalam list 50 target yang ingin saya capai dalam hidup ini. Dan setelah mencapainya saya menemukan bahwa tidak semua yang saya kejar dan perjuangkan itu memang hal yang paling penting dalam hidup. Ah, terlalu ngelantur kemana mana. Mari fokus ke kamera. 

Ulasan saya sebagai pengguna, terkhusus pengguna dalam kondisi bekas dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Sebelumnya saya pernah memakai kamera jenis prosummer yakni Fujifilm Finepix S2950 sebagai batu loncatan untuk belajar pengaturan manual sebelum akhirnya meminang DSLR. Banyak poin plus yang saya dapatkan dari DSLR di level ini. 


Yang paling utama adalah ketajaman gambar, bokeh yang mantap, noise yang terkontrol dan kemampuan frezze yang oke. Untuk kebutuhan dokumentasi acara indoor ataupun outdoor oke tak masalah. Di ruang minim cahaya noise masih terkontrol, biasa saya pake maksimal berada di ISO 800. Masih cukup terkendali dan dengan gambar yang lumayan. Untuk mendapatkan efek bokeh yang mantap tak masalah, walaupun tanpa lensa fix 50mm lumayan lah. Dengan kemampuan ini untuk mendapatkan DOF yang maksimal bisa di dapatkan, lagi-lagi sebatas kekuatan lensa kit.