Wednesday, February 8, 2012

Resensi buku : MERABA INDONESIA



Resensi buku : MERABA INDONESIA
Ekspedisi “Gila” keliling Nusantara

Penulis : Ahmad Yunus
Pelaku Ekspedisi : Ahmad Yunus & Farid Gaban (dua-duanya Wartawan)

Selama hampir setahun, dua watawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri Bahari. Diatas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.
Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terluakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.
Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya persahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.
(Cuplikan diatas adalah tulisan pada sampul belakang buku MERABA INDONESIA)

Mendapatkan spirit heroik seorang petualang, adalah tujuan awal saya membeli buku ini. Yang pada akhirnya saya mendapatkan lebih dari yang saya harapkan. Buku ini menceritakan realitas Indonesia secara sederhana dan apa adanya. Berangkat dengan honda win yang dimodifikasi, awalnya lengkap dengan box motor dan GPS, namun karena kedua benda pendukung itu rusak justru di awal-awal perjalanan jadinya penjelajahan yang mereka lakukan hampir semuanya tidak dengan alat bantu tersebut. Hanya orang, motor, badan sehat, ransel, peralatan liputan khas wartawan, dan perkap sehari-hari.

Dimulai dari Pulau Jawa menuju Sumatra lalu dilanjutkan ke pulau kecil yang bernama “Enggano” dimana sudah menjadi ciri khas perjalanan bermotor di luar Jawa yakni bensin mahal, menembus angka 10.000 – 15.000 rupiah per liter. Bisa jadi pertimbangan bagi yang ingin menjelajah luar Jawa dengan motor, dan dari membaca blog saya mendapatkan informasi bahwa di beberapa tempat untuk membeli bensin dalam jerigen harus mengantongi surat ijin dari Kepala Desa setempat atau pihak Kepolisian. Bercengkrama dengan penduduk yang berada di kepulauan yang “agak jauh” dari pusat kota juga memunculkan nuansa tersendiri, dimana hiburan yang mereka dapatkan hanyalah dari sound system beserta sebuah keyboard dan dua mic yang kesemuanya sudah usang, diperparah lagi peralatan tersebut konslet dan meledak ketika hendak digunakan menyanyi Ahmad Yunus dan Farid Gaban. Sebuah ironi tersendiri ketika kita melihat di pusat kota-kota besar di negeri ini hiburan melimpah, bahkan sering kelewatan.

Menuju Mentawai tambah lagi cobaan, kamera Canon 50D, laptop Macbook pro, serta ponsel tercebur ke laut dan menjadi bangkai – sama sekali tak bisa digunakan lagi, harus mencari penggantinya walaupun tidak sekelas barang yang rusak tadi.


Mengunjungi dan meliput secara langsung rumah Tan Malaka, tokoh yang ikut merumuskan dan memberikan pemikiran kepada Ir. Soekarno dalam membentuk Republik Indonesia dan menjelajah puing-puing sisa Tsunami di Banda Aceh.

Memasuki Selat Malaka tambah lagi satu ironi yang layak untuk menjadi perenungan Bangsa ini, karena ternyata “Bajak Laut” yang sangat terkenal di selat ini tidak lain adalah oknum berseragam. Bukan seperti bajak laut yang dikenal dalam film, yang bermata satu, berkaki satu, bertangan gancu, dan ditemani burung dipundaknya. Sebuah keadaan yang mungkin sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh orang yang memang tidak pernah berada di garis depan bersama rakyat-rakyat pinggiran.

Masuk Pulau Kalimantan
Dengan harapan yang tinggi akan bertemu hutan tropis yang lebat dengan segudang satwa langka, ternyata harus mulai ditepis agar pikiran tidak kacau karena kecewa. Disini lebih dominan panas terik khas Khatulistiwa ditambah pengapnya udara karena tertutup asap akibat kebakaran/pembakaran hutan. Melihat kearah mana-mana yang ditemui hanya labirin Sawit yang akan membuat orang tersesat jika tidak paham rute.

Namun ada juga sisi positif yang membuat kita layak bangga menjadi Bangsa Indonesia, di salah satu sudut Sulawesi, tepatnya di Bulukumba terdapat pengrajin perahu legendaries – Perahu Phinisi yang membuat detil rancang bangun sebuah perahu hanya mengandalkan intuisi dan skill membuat perahu tersebut diwariskan secara turun-temurun, tak ada oret-oretan kertas, buku manual apalagi tutorial pembuatan karya legendaris ini. Saat dikunjungi sang pengrajin sedang membereskan perahu pesanan dari orang Belanda yang ukurannya cukup bongsor untuk ukuran perahu, yakni dengan panjang hingga 30 meter dan berat mencapai 200 ton.

Ada juga masalah keterbatasan ekonomi yang menjadikan warga masyarakat yang tidak memiliki daya upaya lebih harus rela bergelut dengan maut demi mengganjal perut. Menyelam dengan mengandalkan kompresor tua yang dihubungkan dengan selang sampai kedalaman puluhan meter dibawah permukaan air laut, tidak sedikit yang lumpuh, cacat dan mati karena profesi nekat ini. Sampai muncul istilah “JANDA KOMPRESOR” – istri yang ditinggal mati suaminya yang berprofesi sebagai penyelam dengan kompresor ini. Mereka bukan super hero yang ingin mendapat pujian dan dielu-elukan, mereka hanya mengais rezeki demi sesuap nasi ditengah keterbatasan yang memaksanya untuk berbuat nekat.

Diantara sekian banyak kisah memilukan, ada 2 hal yang senantiasa menjadi pikiran dalam benak saya pribadi.

Pertama, kisah tentang Wilayah Perbatasan. Sengketa perebutan wilayah dengan Negara tetangga sejujurnya hanyalah sengketanya orang-orang tertentu, bukan seluruh bangsa ini. Karena masyarakat yang masih menjadi tanggungan Republik yang kaya raya ini ternyata kesulitan mendapatkan bahan pangan pokok, sembako yang seharusnya menjadi barang yang mudah atau paling tidak tersedia tapi kenyataan berkata lain, justru mereka harus menyeberang ke Negara tetangga hanya untuk beli sembako. Interaksi antar warga Negara di perbatasan ini sama sekali tak pernah memusingkan sengketa wilayah, tapi karena memanasnya berita sengketa wilayah menjadikan mereka makin sulit untuk mendapatkan sembako, sekedar untuk menyambung hidup. Alangkah mirisnya negeri ini…

Kedua, kisah tentang pembantaian tahun 1965 di Flores ratusan orang harus mati karena dianggap PKI. Algojo yang mendapatkan perintah juga tidak boleh menangis atau tidak tega, karena itu berarti akan ada 5 orang yang lain yang akan ikut mati (4 orang dari keluarga Algojo, dan yang 1 Algojo itu sendiri)

Membaca rangkaian kisah yang disusun berkaitan dengan sejarah dan kejadian nyata di masa lalu menjadikan haru, sedih, dan mengaduk-aduk perasaan. Ini bukan cerita rekaan yang hanya mementingkan emosi, tapi inilah fakta…

Sebagai penutup, kesedihan boleh saja tapi yang lebih penting adalah kita sadar kita kaya dan kuat. Jangan biarkan kita selalu diperbudak kepentingan asing di negeri kita sendiri yang katanya sudah merdeka. Tidak zamannya lagi memper keruh suasana dengan isu SARA yang saat ini sangat mudah dipantik untuk menjadi kobaran api yang memangsa sana dan sini. Disini Ahmad Yunus menuliskan bahwa dia sangat diterima walaupun ditengah-tengah orang beragama lain, ia menuliskan, ditengah-tengah lingkungan yang biasa mengkonsumsi babi ia tetap dihargai dengan mengundang makan Ahmad Yunus (yang beragama Islam) tapi tidak disuguhi babi, ia disuguhi ayam yang disembilihnya sendiri sambil mengucap basmalah. Betapa indah toleransi dalam lingkup yang seperti ini… Tidak tindas menindas maupun mengintimidasi, namun jika ada yang mengintimidasi itulah yang harus dipermasalahkan.

Semoga resensi ini bermanfaat.

Jangan lupa beli bukunya jika ingin benar-benar mengetahui realitas Indonesia, sangat menggugah…

(Saya tidak dibayar apa-apa untuk meresensi dan mengiklankan.hehe tapi saya merasa ikut bertanggung jawab menyebarkan informasi ini dengan media yang mampu saya gunakan)
Banyak salah dan kurang dalam resensi ini mohon dimaafkan, saya adalah orang yang hobi penulis – bukan penulis sungguhan/ belum menjadi penulis sungguhan…
Kritik dan saran silahkan di koment atau lewat shoutmix, dll

Terimakasih

No comments: