Tuesday, February 28, 2012

SOLO TOURING #9 "Warung Kopi Pemandangan - Ketep"

Perjalanan ini dilatarbelakangi karena siang itu pusing memikirkan konsep yang harus saya temukan tapi molor berhari-hari belum juga sampai pada keputusan final. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa otak ini perlu di refresh sejenak agar bisa berfikir lebih fokus dan lebih jernih lagi.

Siang itu, sama dengan perjalanan saya sebelumnya...dengan tanpa planing sama sekali, begitu ada keinginan maka persiapan sekitar 15 menit untuk ganti pakaian, menyiapkan perkap, memilah peta yang hendak dibawa lalu meluncur ke aspal panas disiang terik. hufft... siang hari pukul 13.30 di tengah kota Solo, bisa dibayangkan panasnya, lalu lintas yang semrawut, bising dan polusi. Tak apa, begitu bisa meninggalkan tengah kota untuk melintas di jalur Boyolali - Semarang sudah bisa memacu motor dengan kecepatan maksimal (80 kpj - motor cc mini). Sekuat tenaga menaikkan kecepatan menjadi 90-100 kpj nampaknya sia-sia saja karena tak pernah kesampaian...ya sudahlah.

Friday, February 10, 2012

BELAJAR FOTOGRAFI DI KEBON

Menambah satu kategori dalam blog ini, karena merasa butuh wadah untuk hobi dan kesenangan terhadap fotografi. Ini adalah hasil jepretan sederhana dengan kamera yang sederhana pula, hanya kamera hp Sony Ericsson K610i yang saya beli second dari tokobagus.com dan dengan perjuangan harus perjalanan untuk COD pulang pergi sejauh 120 km.

Tak apa, harapan memiliki kamera yang lebih canggih belum tergapai yang penting fotografi jalan terus
(*edisi melawan keterbatasan)

Inilah hasilnya:
































Wednesday, February 8, 2012

Resensi buku : MERABA INDONESIA



Resensi buku : MERABA INDONESIA
Ekspedisi “Gila” keliling Nusantara

Penulis : Ahmad Yunus
Pelaku Ekspedisi : Ahmad Yunus & Farid Gaban (dua-duanya Wartawan)

Selama hampir setahun, dua watawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri Bahari. Diatas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.
Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terluakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.
Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya persahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.
(Cuplikan diatas adalah tulisan pada sampul belakang buku MERABA INDONESIA)

Mendapatkan spirit heroik seorang petualang, adalah tujuan awal saya membeli buku ini. Yang pada akhirnya saya mendapatkan lebih dari yang saya harapkan. Buku ini menceritakan realitas Indonesia secara sederhana dan apa adanya. Berangkat dengan honda win yang dimodifikasi, awalnya lengkap dengan box motor dan GPS, namun karena kedua benda pendukung itu rusak justru di awal-awal perjalanan jadinya penjelajahan yang mereka lakukan hampir semuanya tidak dengan alat bantu tersebut. Hanya orang, motor, badan sehat, ransel, peralatan liputan khas wartawan, dan perkap sehari-hari.

Dimulai dari Pulau Jawa menuju Sumatra lalu dilanjutkan ke pulau kecil yang bernama “Enggano” dimana sudah menjadi ciri khas perjalanan bermotor di luar Jawa yakni bensin mahal, menembus angka 10.000 – 15.000 rupiah per liter. Bisa jadi pertimbangan bagi yang ingin menjelajah luar Jawa dengan motor, dan dari membaca blog saya mendapatkan informasi bahwa di beberapa tempat untuk membeli bensin dalam jerigen harus mengantongi surat ijin dari Kepala Desa setempat atau pihak Kepolisian. Bercengkrama dengan penduduk yang berada di kepulauan yang “agak jauh” dari pusat kota juga memunculkan nuansa tersendiri, dimana hiburan yang mereka dapatkan hanyalah dari sound system beserta sebuah keyboard dan dua mic yang kesemuanya sudah usang, diperparah lagi peralatan tersebut konslet dan meledak ketika hendak digunakan menyanyi Ahmad Yunus dan Farid Gaban. Sebuah ironi tersendiri ketika kita melihat di pusat kota-kota besar di negeri ini hiburan melimpah, bahkan sering kelewatan.

Menuju Mentawai tambah lagi cobaan, kamera Canon 50D, laptop Macbook pro, serta ponsel tercebur ke laut dan menjadi bangkai – sama sekali tak bisa digunakan lagi, harus mencari penggantinya walaupun tidak sekelas barang yang rusak tadi.

Thursday, February 2, 2012

INTROSPEKSI DIRI

Ini bukanlah tausyah yang hendak saya sampaikan diatas mimbar atau menyampaikan kultum di Masjid, ini hanyalah sekelumit tulisan yang berada dalam benak pikiran saya setelah beberapa kejadian seolah menegur agar berhenti sejenak...dan merenung.

Hobi, obsesi, kesenangan menjelajah bukanlah segalanya dalam hidup. Saya mendapatkan kata-kata ini setelah membaca beberapa halaman dari buku "Meraba Indonesia" yang niat awalnya adalah menguatkan motivasi bahwa petualangan itu adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dengan 'segalanya'. Tapi ternyata justru membuka mata, bahwa ini hanyalah sebuah hobi, kesenangan dan selingan dalam hidup yang boleh saja diperjuangkan namun pada batas-batas tertentu. Karena membaca potongan kisah-kisah kehidupan dari berbagai macam manusia yang digambarkan dalam narasi tersebut memunculkan rasa yang berbeda, bahwa hidup ini ada yang lebih penting untuk diperjuangkan. Kehidupan yang layak, kepedulian terhadap sesama, memperjuangkan keadilan untuk orang yang berada di pinggiran, memikirkan kondisi negara ini yang ternyata masih jauh dari kata merdeka lebih layak untuk di prioritaskan walaupun dengan style adventurer boleh dan itu sangat mendukung kebutuhan mobilitas.