SOLO TOURING # 7 (Kebun teh Ngargoyoso)

Akhir tahun, di bulan Desember...entah kenapa banyak sekali hal yang ingin ku tulis karena ternyata dalam tiap tahapan kehidupan ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil agar kita senantiasa bersyukur terhadap apa saja yang diberikan kepada kita baik itu hal yang menyenangkan ataupun menyedihkan bagi kita. Itu juga yang melatar belakangi aku untuk senantiasa senang menulis dalam blog yang entah dibaca berapa orang aku tidak tahu. Yang penting menulis itu menyenangkan dan menginspirasi.

Kali ini adalah tentang kisah seorang manusia yang sedang pusing mengerjakan skripsi (masalah klasik). Entah kenapa ketika sekolah atau kuliah aku merasakan tidak menemui hambatan yang berarti, asal mau belajar ya pasti bisa dapet nilai yang bagus. Tapi kok ini beda ya..

Sampai pada suatu hari aku lelah, aku ingin melepas penat sebentar karena tidak mungkin untuk bepergian lama-lama. Yah, kali ini hanya dekat saja di daerah Ngargoyoso. Menggila dengan offroad pake bebek blasakan disela-sela kebon teh. Ngutip salah satu motto friend di fb (gak punya klx trabas pake supra juga oke). Sebenarnya pingin punya foto pas naek motor blasakan, tapi apa daya namanya juga orang pergi menghilang sendirian siapa juga yang mau memfotokan.




Sekalian bercerita sedikit tentang lokasi kebun teh di Ngargoyoso ini. Biar bermanfaat bagi pembaca kalo ada yang mampir di blog saya dan kebetulan bukan orang eks karisidenan Surakarta dan mau berlibur ke sini.
Salah satu lokasi wisata yang masih berada dalam kawasan Karanganyar ini memang menarik, kalo pendapat saya pribadi lebih menarik dibandingkan dengan air terjun Grojogan Sewu karena tipikal saya orang yang senang dengan sesuatu yang masih alami, mungkin ini pendapat pribadi yang subyektif juga. Akses menuju lokasi didominasi dengan jalan yang meliuk-liuk dan udara yang segar khas kaki gunung. Makin tinggi makin dingin lagi, gak gampang capek kalo jalan-jalan ke daerah yang berhawa dingin.

Untuk masuk kawasan ini hanya melewati satu loket saja dipinggir jalan dan membayar Rp 1.000 untuk retribusi, sebuah angka yang murah pastinya. Setelah itu lanjut jalan saja dan pemandangan makin indah jika kita makin ke atas. Kanan kiri jalan isinya pemandangan pohon teh yang menghijau seperti bukit teletubie dan tanjakan yang cukup terjal dan agak menyusahkan bagi orang yang masih pemula naek motor, biasanya cewek yang bukan "pembalap" agak kesulitan melewati rute ini tapi asal hati-hati bisa saja kok.

Setelah tiba di kawasan kebun teh, tidak ada yang istimewa-istimewa banget sebenarnya. Disini ada bukit, kebun teh, penjual cilok, siomay kuah, bakso, mie ayam, kopi, dll. Yang bisa dinikmati disini ya tinggal cari lokasi yang dapet view paling bagus trus duduk santai sambil menikmati pemandangan dan menghirup segarnya hawa gunung. Dan satu lagi yang pasti, lokasi ini banyak digunakan anak sekolah untuk pacaran terutama akhir pekan. Itu menjadi berkah tersendiri bagi penjual yang disini ternyata, karena selain penjual yang berjualan diwarung atau berkeliling dengan motor siomay ada juga penjual yang menjajakan makanan ringan, permen, rokok, soft drink yang rela blasakan disela-sela kebon teh mencari orang yang pacaran. Target yang oke memang, dengan setengah memaksa agar dagangannya dibeli biasanya orang yang pacaran mau beli juga, cowoknya masak gak mau mbeliin ceweknya? Tapi kalo orang yang blasakan sendirian seperti saya cuma disapa saja.hehe

Kembali ke urusan offroad...
Kebun teh sering dipake jalan-jalan komunitas trail kata orang-orang, tapi saya berharap agar ketemu mereka langsung pas disini belum pernah kesampaian. Medan yang cocok untuk motor garuk tanah, dan medan yang cocok untuk memacu adrenalin jika naek motor bebek dengan ban halus (tipikal ban untuk jalan raya). Dan inilah yang saya suka dari lokasi ini, sekedar mampir untuk memacu adrenalin. Yang kadang juga konyol karena nekat menerabas jalan yang sempit yang tidak mungkin untuk memutar motor sampe mentok dan tidak berani untuk lanjut karena ban sudah tidak nggigit lagi dengan turunan yang ekstrim terpaksa motor ditarik kebelakang menyusuri jalan sempit yang udah kadung dilewati (lagigila.com)


Selesai itu beli cilok yang masih hangat kebul-kebul, trus pulang.
Pulangnya nemu pemicu adrenalin lagi, sempat terpikir kira-kira ditandangi gak ya...tapi apa salahnya sih diladeni mumpung lagi menggila. Pemicu adrenalin selanjutnya adalah hujan badai, maklum musim hujan. Perjalanan pulang dibersamai mendung yang makin pekat dan hitam menyeramkan pertanda bahwa nanti hujannya bukan cuma gerimis tapi air bakal ditumpahkan sejadi-jadinya ditambah angin kencang. Setelah menepi untuk mengenakan jas hujan langsung cabut buat merasakan ganasnya hujan, dan jadi tontonan karena dijalan orang-orang pada pilih menepi tapi saya malah hujan-hujanan. Tak apa-apa...2 hal pemicu adrenalin yang seru. Cukup untuk dosis hari ini dan beberapa hari kedepan saya sudah siap jadi kutu buku dan tukang ketik yang berjam-jam didepan komputer menyelesaikan yang tertunda..

Alhamdu-lillah (sambil bergaya ust. Maulana)

Comments

Popular Posts