Friday, December 16, 2011

SOLO TOURING # 7 (Kebun teh Ngargoyoso)

Akhir tahun, di bulan Desember...entah kenapa banyak sekali hal yang ingin ku tulis karena ternyata dalam tiap tahapan kehidupan ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil agar kita senantiasa bersyukur terhadap apa saja yang diberikan kepada kita baik itu hal yang menyenangkan ataupun menyedihkan bagi kita. Itu juga yang melatar belakangi aku untuk senantiasa senang menulis dalam blog yang entah dibaca berapa orang aku tidak tahu. Yang penting menulis itu menyenangkan dan menginspirasi.

Kali ini adalah tentang kisah seorang manusia yang sedang pusing mengerjakan skripsi (masalah klasik). Entah kenapa ketika sekolah atau kuliah aku merasakan tidak menemui hambatan yang berarti, asal mau belajar ya pasti bisa dapet nilai yang bagus. Tapi kok ini beda ya..

Sampai pada suatu hari aku lelah, aku ingin melepas penat sebentar karena tidak mungkin untuk bepergian lama-lama. Yah, kali ini hanya dekat saja di daerah Ngargoyoso. Menggila dengan offroad pake bebek blasakan disela-sela kebon teh. Ngutip salah satu motto friend di fb (gak punya klx trabas pake supra juga oke). Sebenarnya pingin punya foto pas naek motor blasakan, tapi apa daya namanya juga orang pergi menghilang sendirian siapa juga yang mau memfotokan.

Tuesday, December 13, 2011

SOLO TOURING # 6 (Purwodadi)

Ride report kali ini lahir karena sebuah keterbatasan yang memaksa untuk melakukan hal-hal agak konyol. Tapi prinsip yang masih senantiasa aku pegang adalah, orang boleh melihatku sebagai seorang yang biasa saja tapi aku punya impian besar yang mungkin saat ini belum terlihat bakal teraih tapi aku yakin aku bisa meraihnya.

Langsung saja ke inti cerita.
Keinginanku untuk memiliki kamera yang belum kesampaian dan jika mengandalkan kamera pinjaman tidak lagi nyaman, maka alternatif selanjutnya adalah menabung dan mencari sesuatu seoptimal, seefisien, dan tentu sehemat mungkin. Tidak mulul-muluk sebenarnya, saat ini aku ingin punya HP SE dengan kamera minimal 2 MP itu saja sudah cukup. Selanjutnya berburu...Karena belom ada teman yang mau menjual barang yang seperti itu maka hunting online via tokobagus dan kaskus. Berhari-hari gak ketemu orang area solo yang jual barang dengan kondisi dan harga yang cocok, sampe akhirnya frustasi. Ah ya sudahlah...kalo orang solo gak ada luar solo gak apa-apa nanti tak samperin.
Eh, ketika keyword pencarian diperluas areanya tiba-tiba ada salah satu iklan SE K610i area Purwodadi-Semarang. Tak perlu berlama-lama setelah tawar menawar harga langsung jadian, pagi tawar menawar sore ketemuan (Simpang 5 Purwodadi). Gila, jauh juga kalo tak pikir. Tapi demi mengejar impian yang belom keturutan ya tak masalah. 

Jumat siang sesudah sholat jumat langsung pulang, ambil peta, rompi, boot dan perkap yang lain langsung cabut dengan rute Solo > Kalioso > Gemolong > Waduk Kedung Ombo > Grobogan > Simpang 5. Berangkat jam 13.30 tiba di lokasi 14.45 kecepatan rata-rata 70 kpj sendirian ternyata memberikan sensasi asik yang luar biasa. Berikut ini adalah deskripsi lokasinya:

Jalan Solo > Sumberlawang
Masih sama seperti jalanan yang aku kenal dahulu kala ketika masih sekolah SMP di Gemolong, carut marut lalu lintas karena jalanan yang sempit dan kendaraan yang padat. Untuk menyalip satu pik up saja butuh perjuangan yang luar biasa, untuk jalanan seperti ini gak ada sesi santai. Pokoknya harus fokus dan fokus, terlena sesaat bisa kena kubangan jalan atau nubruk kendaraan yang berhenti mendadak atau bisa kesambar RELA dari arah berlawanan. Dan jika melewati jalanan disini bersama motor dengan plat K seringnya kebut dalam kecepatan tinggi dan hafal kubangan. Jika pemilik plat K itu adalah cowok maka aku akan menguntit dibelakangnya, tapi kalo cewek mending jaga jarak aman.

Mental Buruk Pengusaha Lokal

Jika membaca judul postingan diatas saya harap jangan ada yang tersinggung dulu karena "mental buruk" diatas tidak dipukul rata terhadap semua pengusaha lokal. Ini hanya sebuah ulasan tentang kejadian yang saya alami yang harapannya bisa diambil pelajaran bagi siapa saja baik itu pelaku usaha ataupun konsumen, agar kedepan tidak terjadi hal yang seperti ini.

Kisah tukang pigura
Tanpa perlu saya sebutkan lokasi ataupun siapa oknum yang bersangkutan akan saya tuliskan pengalaman tidak menyenangkan yang saya alami akibat dari tingkah laku si tukang pigura. Tapi jika ada yang ingin bertanya secara privat saya layani.
Hari senin saya menyerahkan lukisan yang akan saya pasangkan pigura di salah satu tukang pigura dikota Solo. Setelah diukur dan kesepakatan model serta harga saya membayar DP sebesar 50.000 dari total biaya 87.500 dan dia berjanji pesanan saya bisa diambil pada hari kamis sore, awalnya saya komplain kenapa lama sekali tapi karena dia beralasan stok bahan sedang habis jadi dia harus mengupayakan terlebih dahulu dan agak memundurkan hari agar pas diambil memang sudah jadi. Ya sudahlah...
Hari kamis sore, tepat seperti yang ia janjikan saya mendatangi pesanan saya. Benar-benar saya sorekan menjelang dia tutup, eh ternyata belum jadi. Dengan alasan yang masih sama, kayunya masih dicarikan. Lah, dari kemaren ngapain? Akhirnya diundur hari rabu. Gilaaa...Pasang pigura lukisan ukuran 1 meter saja 2 minggu. Nomer hape yang bisa dihubungi tidak ada, niat buka usaha gak sih. Okelah, kalo sampe hari rabu masih berkilah saya ambil paksa uang DP dan lukisan saya.

AIR TERJUN JUMOG (Karanganyar)

Karanganyar bagiku adalah sebuah pesona, karena merupakan satu kawasan yang memiliki seabreg potensi wisata pemandangan yang luar biasa. Wilayah yang berada dikaki gunung Lawu ini cukup terkenal dimana-mana, sehingga menjadikanku untuk berniat menuliskan beberapa lokasi diantara sekian banyak lokasi wisata yang menyenangkan untuk dikunjungi. Tulisan ini adalah postingan pertama untuk Kategori wisata Karanganyar, untuk review lokasi yang lain ada di postingan berikutnya.

Air terjun Jumog berada didaerah Ngargoyoso, Karanganyar. Jika dilihat secara lokasi aksesnya bisa dikatakan cukup mudah karena dengan aspal yang halus, tanjakan yang tidak terlalu tinggi, dan lokasi yang nyaman. Kalo berangkat dari Karanganyar maka perjalanan ke arah timur lalu setelah sampai di Karangpandan sudah ada papan petunjuk jalan menuju lokasi. Tidak jauh dari percabangan sudah ada petugas retribusi yang akan menarik biaya retribusi sepeda motor sebesar Rp 1.000,- lalu mengambil jalan yang kanan bawah atau bisa bertanya ke petugas tersebut.