SOLO TOURING # 5 (SOLO-KETEP-KOPENG-BANDUNGAN)



Start

Sebenarnya ini bukanlah ritual rutin tahunan, hanya saja terasa ada yang kurang jika libur lebaran sudah mau habis dan belum menemukan spot atau track baru untuk menambah referensi. Jika tahun lalu saya melakukan ritual ini ke selatan, maka tahun ini gantian ke utara. Untuk liputan waktu ke selatan tahun lalu bisa dilihat Solo Touring 3 Pantai.

Ini sebenarnya bukan rute baru yang masih benar-benar fresh, karena sebagian lokasi sudah pernah saya jelajahi walaupun saat itu tanpa membawa kamera (sebuah jalan-jalan yang cukup tragis, tidak ada foto) hanya saja kali ini saya mengambil rute dari arah berlawanan dari Touring Kopeng kemaren. Tujuan mengambil rute dari arah yang sebaliknya adalah daerah Selo-Ketep merupakan rute yang sangat asik untuk riding, sehingga sayang jika melewati lokasi ini sudah siang banget maka seringnya dapet kabut atau panas atau ya banyak kemungkinan yang pastinya udara serta pemandangan lebih bagus jika dipagi hari. Tujuan yang lain adalah mencoba jalur tembus Kopeng-Bandungan, yang kemaren sih sempet ada temen yang ngomporin kalo jalur tembus ini viewnya bagus dengan dominasi hutan bambu yang gelap dan lumayan adem. Tapi perkiraan saya yang hutan bambu itu malah jalur tembus Ketep-Kopeng yang kemaren pernah saya jelajahi pas gak bawa kamera.

Start (Indomaret Colomadu) 08.13
Lucu sebenarnya, karena ketika hari minggu pagi seperti ini sebenarnya masih bingung pingin jalan-jalan kemana sehingga setelah mengantar adik ke Mangkunegaran saya masih muter-muter kota Solo belum bisa memastikan tujuannya kemana. Tetapi niat untuk jalan-jalan sudah ada, sudah pake jaket, sepatu boot, helm full face, siap kamera, peta Jawa Tengah, dan yang lain-lainnya. Akhirnya setelah berputar-putar saya mantapkan pilihan untuk jalan ke arah Ketep Pass, sehingga yang pertama dilakukan adalah mampir mini market terdekat dengan lokasi saat itu untuk membeli minuman isotonik (logistik wajib untuk jalan-jalan, terutama saat cuaca panas). Setelah membeli minuman langsung berangat melalui jalur Asrama AURI di Colomadu tembus ke Jalan Raya Boyolali.
Jalanan Boyolali - Semarang sepi amat yah..
Disambut suasana lengang sepanjang jalan, karena berdasarkan laporan di berita bahwa puncaknya arus balik adalah hari sabtu kemaren, bukan hari minggu ini. So, geber motor sekencang-kencangnya dijalan ini...maksimal 100 kpj saja, kasian motornya juga cuma 100cc. Lanjut jalur arah Semarang memang cukup lancar, tapi tidak tahu jika sudah menjelang Salatiga. Karena tujuannya adalah Ketep maka lewatnya adalah Selo, dari jalan raya sudah masuk ke jalan yang lebih kecil. Jelas lebih sepi dan sebentar lagi lebih dingin tentunya. Yupp, dari Selo makin naik maka udara makin bersih, langit makin cerah, suasana makin sejuk dan yang pasti pemandangan bagus banyak sekali. Sejenak berhenti untuk sekedar minum dan mengambil foto di tempat yang dapet view cantik adalah wajib. Sayang, kamera tidak bisa menangkap semua detil yang bisa dilihat oleh mata, jadi seadanya saja yang penting lokasi ini layak dijajal rutenya untuk jalan-jalan ketika pagi hari dengan suasana cerah seperti ini.
Nice view 1
Nice view 2

Jalane halus banget, sepi lagi...
Satu hal lagi yang membuat rute ini menarik untuk dipake jalan-jalan, aspalnya udah halus booo. Terakhir lewat jalur ini aspalnya banyak yang mengelupas, hampir-hampir tidak menemui jalanan yang halus mulus sepanjang 500m saja. Tapi sekarang, jangan tanya...riding sambil merem-merem pun bisa, asal jangan nabrak. Jadi bisa disimpulkan bahwa secara umum untuk kualitas aspal dari Selo ke arah Ketep Pass 90% bagus. Dan untuk tikungan dan tanjakan juga tidak terlalu ekstrim, asal tidak ngebut dan tetap fokus hampir tiap orang yang bisa naek motor juga bisa melewati rute ini.


Ketep Pass 09.44 (60km dari Solo)

Saya fotoin motor
Motor fotoin saya
Dengan kecepatan rata-rata 60 kpj dan beberapa kali berhenti untuk ambil gambar saya bisa sampai lokasi ini 90 menit saja. Cukup singkat dan belum melelahkan karena udara dingin menjadikan tubuh lebih tahan lama berkendara daripada kepanasan. Rupanya disini masih banyak juga orang yang piknik untuk sekedar jalan-jalan, makan-makan, nonton Puncak Panca Arga (5 gunung) atau yang lainnya...maka saya malas untuk berhenti didekat lokasi wisatanya. Menjauh ke arah atas agar dapet jalan yang lebih sepi dan bisa nongkrong sejenak melihat langit dan hamparan lahan yang sebagian tertutup kabut tipis-tipis. Wihh, manteb lagi kalo ada kopi panas sebenernya, tapi lain waktu sajalah...

Lanjut lagi ke arah Kopeng, dari sini saya mulai menyiapkan kamera karena kalo tidak salah jalur tembus dari Ketep-Kopeng terdapat beberapa lokasi yang cukup menarik untuk dinikmati pemandangannya. Ya, hutan pinus dan hutan bambu yang cukup rimbun menambah suasana makin sejuk sayang hutan bambunya belum terfoto karena lalulintas cukup ramai dan jalanan disini sudah makin jelek saja aspalnya.
Jalan tembus yang ajiiiib
Numpang narsis

Kopeng
Hampir sama keadaanya dengan ketika saya lewat dahulu, disini tidak terlalu banyak spot yang menarik seperti Selo-Ketep namun disini saya hanya pingin jalan-jalan dan mengenal rute saja jadi tidak masalah viewnya biasa-biasa saja. Disini saya tidak berhenti lama karena hanya berhenti untuk njepret beberapa kali dan isi bensin eceran 1 botol sambil bertanya kepada penduduk jalur tembus dari Kopeng-Bandungan. Dan ternyata memang ada, but I like this description...
Saya: Mas, mo tanya...kalo dari sini tu ada jalan tembus Kopeng-Bandungan ya?
Masnya: Oh, ada mas...dari sini turun terus sampe ada Kampus di kanan jalan, turun 100m lagi ntar ada pertigaan yang ada pos ojeknya. Dari situ ambil kiri terus nanti udah tembus Ambarawa trus Bandungan.
Saya: Makasih mas...
(Sebuah deskripsi singkat yang ternyata hanya membuat saya senang beberapa saat sebelum benar-benar mencobanya)
Ini jalur tembus (difoto dari bawah karena kebablasan)


Mencari Jalur Tembusan (Kopeng-Bandungan)
Setelah menemukan pertigaan yang dimaksud maka saya langsung lanjut mencari apakah masih ada hawa dingin disini karena makin turun dari Kopeng saya makin kepanasan dengan jaket yang berat ini. Tapi ternyata tidak makin adem tetapi makin panas, ditambah lagi jalur tembus ini punya seabreg pertigaan yang membuat saya harus bertanya 7kali ditempat yang berbeda agar bisa sampai ke Bandungan. 

Ini jalan kok makin panas ya
5km menjelang Bandungan ngecer bensin 1 botol lagi, membenahi jala diatas braket, membuka beberapa resleting jaket agar angin bisa masuk mendinginkan badan (takut kepanasen overheat lalu pingsan dijalan) akhirnya tiba di Bandungan pas terdengan adzan dzuhur. Lokasi pertama yang saya cari mini market lagi, beli bateray untuk kamera sambil ngadem sejenak dan ngobrol-ngobrol dengan satu keluarga (Bapak, Ibu, 1 anak yang mudik ke Bandungan) si Bapak juga pusing kepanasan, waktu tak tanyai ternyata lewat jalur jalan gedhe semua. Dari Purwodadi > Solo > Boyolali > Salatiga > Bandungan...oh tidak, aku sudah pusing membayangkan panas dan pegelnya karena mereka naik Mio sambil membawa bawaan yang banyak.

Alfamart Bandungan
Perkap jelajah






Ngadem di Masjid yang belom selesai dibangun daerah Bandungan 12.09 
(110km dari Solo)

Sendirian
Ini kali pertama dalam perjalanan saya bisa tidur rebahan dengan nyaman dilantai keramik yang adem. Wisss...nikmat abis. Setelah sholat dzuhur dijamak ashar lanjut tiduran lagi sambil ngademin mesin. Lokasi Masjid ini diatas komplek Villa dan penginapan-penginapan kecil lainnya di daerah Bandungan.
Salah satu view disini


























Back to Solo
Karena tujuannya bukan berwisata tapi sekedar jalan-jalan ditempat yang baru maka Masjid ini jadi titik terjauh perjalanan kali ini, setelah ini persiapan kembali ke Solo karena sore nanti sudah ada agenda yang harus diselesaikan. Perjalanan pulang saya lewat jalur utama lalu lintas mudik 2011, tanpa perlu buka peta lagi tiap ada tulisan arah Solo saya ngikut saja. Perjalanan kembali tidak seseru berangkat tadi, karena namanya jalan raya sudah bisa dipastikan isinya keramaian dan cuaca yang panas jadi sejak awal fisik dan hati disiapkan agar bisa happy dan enjoy dengan 2 hal itu. Pun begitu tetap saja ada hal-hal lucu, menyedihkan, luar biasa dsb. Ada sebuah mobil dengan merek TERIOS tapi tulisane diotak-atik sama yang punya jadi EROTIS.WAkakakakak (Ini mobil fotonya ada dibawah)
Mobil "EROTIS" eh salah, TERIOS
Ada juga 1 kecelakaan yang cukup serem juga, 1 buah Vario Techno dinaiki Bapak sama Ibu dan dengan barang bawaan yang seabreg khas orang mudik jatuh ditengah jalan dalam kondisi pas rame-ramenya, untung semua mobil dari 2 arah bisa segera mengendalikan dan beberapa orang warga setempat segera menolong (untuk yang ini belom sempet ngambil gambar)

Finish 14.59 (km 200 sejak keberangkatan tadi)
Alhamdulillah, akhirnya sampai dirumah dengan selamat tak kurang suatu apapun dengan total biaya yang saya keluarkan:
Bensin          : 20.000
Pocari Sweat :  6.100
Energizer      : 10.500
TOTAL
Rp 36.600
Finish @ km 200 sajah..
Mengakhiri liburan dengan sesuatu yang menyenangkan bisa membuat semangat ketika menjalani hari aktif esok pagi. Ketika yang lain pada update status bernada sedih di akhir liburan saya bisa tersenyum dan semangat untuk esok hari :D


Comments

Popular Posts